Saat Warga Flores Timur Harus Taruh HP di Jendela Biar Dapat Sinyal
Jakarta, CNBC Indonesia - Berbeda dengan saat ini ketika akses internet sudah kian mudah, dahulu masyarakat harus bersusah payah untuk dapat berselancar di dunia maya. Hal tersebut turut dialami masyarakat Flores Timur yang sempat harus meletakkan ponsel di jendela hanya untuk menangkap sinyal.
"Dulu saya ingat, handphone itu harus kita taruh di pintu atau di atas jendela supaya bisa dapat sinyal untuk berkomunikasi," ujar Kadis Kominfo Flores Timur, Silvester Suban Toa Kabelen, dalam acara Bakti Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Selain itu, warga kerap harus menempuh perjalanan hingga berkilo-kilometer demi mendapatkan akses internet. Padahal, konektivitas tersebut sangat krusial untuk mengakses informasi, mengirimkan laporan, menyampaikan data, hingga terhubung dengan kerabat di daerah lain.
"Pemerintah daerah membutuhkan informasi yang cepat untuk diteruskan ke tingkat provinsi, kementerian, maupun sebagai pertimbangan pengambilan keputusan. Namun, itu menjadi kendala utama kami saat itu," ungkapnya.
Kini di Flores Timur telah terbangun 6 BTS dengan 262 titik akses internet yang tersebar di perkantoran pemerintah, perkampungan desa, fasilitas pendidikan, hingga layanan kesehatan.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Bakti Kementerian Komdigi, Fadhilah Mathar, memaparkan bahwa pihaknya telah menyediakan 31.864 titik layanan publik di seluruh Indonesia.
Fasilitas tersebut mencakup 21.718 titik fasilitas pendidikan, 1.878 titik pelayanan kesehatan, 6.353 titik kantor pemerintahan, 489 titik pusat kegiatan masyarakat, 441 titik tempat ibadah, 526 titik sektor pertahanan dan keamanan, 168 titik lokasi wisata, serta 245 titik pelayanan usaha dan transportasi publik.
Jaringan 4G kini telah menjangkau 6.747 desa, sementara proyek Palapa Ring telah menghubungkan 131 kota/kabupaten, disokong oleh kapasitas Satelit Satria-1 sebesar 150 Gbps.
"Infrastruktur yang mengakselerasi konektivitas digital secara signifikan adalah kehadiran Satria-1. Satria-1 memungkinkan kami menggabungkan solusi terestrial dengan non-terestrial, khususnya di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau oleh kabel serat optik (fiber optic)," pungkas Fadhilah.
(fab/fab)