Sumber Kehidupan Timur Tengah Musnah, Rasulullah Sudah Peringatkan

Redaksi, CNBC Indonesia
Selasa, 04/08/2026 18:20 WIB
Foto: Suasana Sungai Tigris di Baghdad Irak. Negara yang sangat terdampak oleh perubahan iklim, telah dilanda kekeringan dan curah hujan rendah selama bertahun-tahun. (AFP/AHMAD AL-RUBAYE)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Dua sungai legendaris yang selama ribuan tahun menjadi urat nadi kehidupan sekaligus cikal bakal peradaban besar di Timur Tengah kini berada di ambang kehancuran. Sungai Eufrat dan Tigris diproyeksikan bakal mengering total dalam beberapa dekade mendatang akibat terpaan perubahan iklim ekstrem dan merosotnya debit air secara drastis.

Kawasan di antara Sungai Eufrat dan Tigris yang secara historis dikenal sebagai Mesopotamia, diakui para arkeolog sebagai tempat lahirnya peradaban pertama di muka bumi. Dari tanah subur inilah lahir kota-kota kuno megah seperti Uruk dan Babilonia, yang wilayahnya kini mencakup kawasan Irak modern.

Dikaitkan dengan Nubuat Kiamat

Fenomena menyusutnya aliran sungai ini menarik perhatian publik karena sering dikaitkan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang populer di kalangan umat Islam. Dalam riwayat tersebut, mengeringnya Sungai Eufrat disebut-sebut sebagai salah satu pertanda makin dekatnya hari kiamat.


"Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering dan menyingkap gunung emas sehingga manusia menjadi saling berperang dan saling membunuh untuk mendapatkannya." (HR. Muslim No. 2894)

Menyusut Cepat, Terancam Kering Total 2040

Sebagai sistem sungai terbesar di Asia Barat, Eufrat mengalir melintasi tiga negara-Turki, Suriah, hingga Irak-sebelum akhirnya bermuara di Teluk Persia. Bersama Sungai Tigris, kawasan ini dahulunya membentuk hamparan wilayah paling subur di kawasan tersebut.

Namun, kejayaan itu kini terancam sirna. Laporan resmi Kementerian Sumber Daya Air Irak pada 2021 memberikan peringatan keras: sistem sungai ini terancam kering kerontang pada 2040.

Penurunan drastis permukaan air serta bencana kekeringan berkepanjangan akibat perubahan iklim global menjadi biang kerok utama penurunan debit air tersebut.

Data menunjukkan, volume aliran air di sistem Eufrat-Tigris telah merosot hampir setengahnya hanya dalam beberapa dekade terakhir. Bahkan, pantauan citra satelit mencatat sebanyak 144 kilometer kubik air tawar lenyap dalam rentang sepuluh tahun, yakni dari 2003 hingga 2013.

Krisis Bagi 60 Juta Jiwa

Dampak dari ancaman ini tidak main-main. Hingga saat ini, setidaknya ada 60 juta jiwa yang menggantungkan keberlanjutan hidup mereka pada pasokan air di sistem Eufrat-Tigris, terutama masyarakat yang bermukim di Turki dan Irak. Krisis air ini berpotensi memicu bencana kemanusiaan dan gejolak ekonomi yang hebat di kawasan tersebut jika tidak segera ditangani.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Intip Cara AI Bantu Bisnis Genjot Penjualan di e-Commerce