Kembaran NASA Ditinggal, Ilmuwan India Ramai-Ramai Cari Gaji Tinggi
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah India memperketat aturan pengunduran diri dan pensiun dini bagi ilmuwan di badan antariksa nasional, Indian Space Research Organisation (ISRO). Keputusan ini dilakukan setelah lebih dari 100 ilmuwan dan tenaga teknis memilih hengkang dalam beberapa bulan terakhir.
Langkah tersebut diambil karena gelombang pengunduran diri dinilai mulai mengganggu sejumlah proyek strategis nasional, termasuk program penerbangan antariksa berawak pertama India, Gaganyaan.
Departemen Antariksa India mengeluarkan aturan baru yang memperketat proses pengajuan pensiun sukarela maupun pengunduran diri bagi ilmuwan yang terlibat dalam misi-misi penting. Dalam memo internal tertanggal 14 Juli yang dikutip kantor berita ANI, disebutkan bahwa lonjakan permintaan keluar dari ISRO telah menyebabkan keterlambatan proyek-proyek yang memiliki kepentingan nasional.
Ketua ISRO V Narayanan mengatakan perpindahan pegawai merupakan hal yang wajar terjadi di setiap organisasi. Namun, menurutnya, aturan baru diperlukan agar proyek proyek penting tidak terdampak secara mendadak.
"Ini bagian dari setiap organisasi. Langkah ini akan memastikan proyek-proyek penting tidak tiba-tiba mengalami gangguan," kata Narayanan, dikutip dari CNA, Rabu (29/7/2026).
Kebijakan tersebut muncul di tengah pesatnya pertumbuhan industri antariksa swasta India yang kini semakin agresif merekrut tenaga ahli dengan pengalaman tinggi.
Pada Sabtu (18/7), startup teknologi antariksa Skyroot Aerospace mencatat sejarah sebagai perusahaan swasta India pertama yang berhasil meluncurkan roket buatan sendiri yang membawa satelit ke orbit dari wilayah India. Perusahaan yang berbasis di Hyderabad itu didirikan oleh mantan ilmuwan ISRO.
Abhishek Raju, mantan salah satu pendiri perusahaan intelijen geospasial SatSure, mengatakan industri antariksa India kini telah berkembang pesat. Menurutnya, ratusan perusahaan antariksa bermunculan dan kebutuhan mereka bukan lagi sekadar insinyur.
"Industri spacetech India telah matang. Kini ada ratusan perusahaan antariksa dan mereka tidak lagi hanya mencari insinyur. Mereka membutuhkan orang-orang yang pernah mengelola misi antariksa secara menyeluruh. Selama puluhan tahun, keahlian itu dibangun di dalam ISRO," ujarnya kepada CNA.
Perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan baru mengenai efektivitas aturan yang lebih ketat dalam mempertahankan talenta terbaik. Di sisi lain, muncul kekhawatiran apakah India mampu membangun industri antariksa swasta yang kuat tanpa mengurangi kapasitas institusi yang selama ini menjadi fondasinya.
Raju menjelaskan bahwa selama beberapa dekade, program antariksa India hampir sepenuhnya identik dengan ISRO. Namun setelah berbagai reformasi dan derasnya aliran modal ventura pascapandemi, perusahaan-perusahaan antariksa berkembang jauh lebih cepat.
"Dengan reformasi terbaru dan masuknya modal ventura setelah pandemi, perusahaan yang sebelumnya hanya memiliki 20 hingga 25 karyawan kini mempekerjakan 150 hingga 200 orang," ujarnya.
Berbeda dengan startup perangkat lunak, perusahaan antariksa membutuhkan keahlian yang memerlukan waktu puluhan tahun untuk dibangun, mulai dari integrasi sistem, teknologi propulsi, manajemen program hingga operasi peluncuran.
"Satu-satunya sumber yang sah bagi kami adalah ISRO," kata Raju.
Ia menjelaskan bahwa ilmuwan yang menghabiskan bertahun-tahun di ISRO tidak hanya membawa kemampuan teknis yang mendalam, tetapi juga pengalaman mengelola misi antariksa secara utuh, kemampuan yang tidak dapat dengan cepat direplikasi oleh perusahaan rintisan.
Pendiri sekaligus CEO Dhruva Space, Sanjay Nekkanti, mengatakan ketergantungan industri terhadap mantan ilmuwan ISRO merupakan konsekuensi alami dari perkembangan sektor strategis India.
"Selama beberapa dekade, sebagian besar keahlian ini berada di ISRO, DRDO (Defence Research and Development Organisation), laboratorium pertahanan, dan perusahaan milik negara karena lembaga-lembaga inilah yang dipercaya mengembangkan teknologi strategis India," katanya kepada CNA.
Ia menambahkan para ilmuwan ISRO yang telah pensiun masih aktif membimbing tim teknik serta berkontribusi dalam pengembangan produk di Dhruva Space, bersama para ahli yang sebelumnya bekerja di NASA dan European Space Agency (ESA).
Meski belum ada data resmi mengenai perpindahan ilmuwan ISRO ke sektor swasta, Raju mengatakan startup kini menjadi tujuan yang semakin menarik bagi talenta berpengalaman. Selain menawarkan gaji yang kompetitif, perusahaan-perusahaan tersebut juga memberikan posisi kepemimpinan, opsi saham karyawan, dan kesempatan mengembangkan teknologi dengan lebih cepat.
Laporan Economic Times pada Maret 2025 juga menyebut startup antariksa India makin aktif merekrut mantan ilmuwan ISRO untuk memperkuat kepemimpinan, komersialisasi, dan ekspansi global.
"Mereka mungkin akan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dalam satu tahun dibandingkan yang bisa mereka lakukan dalam lima atau tujuh tahun," ujar Raju.
(dem/dem) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]