Elon Musk Mengaku Tobat Setelah Kerajaan Bisnisnya Hancur Lebur
Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib kerajaan bisnis Elon Musk berada di ujung tanduk. Kegagalan demi kegagalan yang menimpa deretan perusahaannya, mulai dari SpaceX hingga Tesla, kini berujung pada penyesalan atas keputusannya terjun terlalu dalam ke panggung politik AS.
Pekan lalu, roket raksasa Starship milik SpaceX gagal menyalakan beberapa mesinnya. Insiden ini memaksa perusahaan membatalkan uji coba peluncuran perdananya sejak melakukan Penawaran Umum Perdana (Initial Public Offering/IPO) beberapa saat lalu.
Kegagalan tersebut menjadi gambaran nyata atas keraguan para investor terhadap ambisi megah Musk. Tanpa keberhasilan Starship, janji sang centibillionaire bahwa SpaceX akan bernilai "lebih dari gabungan seluruh dunia" dinilai mustahil terwujud.
Di tengah penurunan harga saham yang terus berlanjut, SpaceX bahkan terpaksa menjual daya komputasi (compute) kepada para pesaingnya alih-alih memimpin perlombaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Tesla Terpuruk, Saham Anjlok
Kondisi tak kalah memprihatinkan terjadi pada produsen mobil listriknya, Tesla. Penjualan kendaraan dilaporkan merosot tajam akibat reaksi negatif konsumen terhadap perilaku dan komentar-komentar kontroversial Musk di publik.
Bahkan, lonjakan pendapatan Tesla baru-baru ini tidak mampu menyelamatkan harga sahamnya. Pembengkakan beban biaya akibat pengeluaran besar-besaran di sektor AI justru membuat harga saham Tesla meluncur bebas pada pekan ini.
Penyesalan Elon Musk
Di tengah tekanan berat yang melanda imperium bisnisnya, Musk akhirnya buka suara dalam wawancara khusus bersama The Economist yang diterbitkan pekan lalu. Ia terang-terangan mengaku menyesal telah melangkah terlalu jauh di ranah politik saat memimpin Department of Government Efficiency (DOGE) di awal masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.
"Saya terlalu banyak terlibat dalam politik dan, jujur saja, kebablasan," kata Musk, dikutip dari Futurism, Senin (27/7/2026).
Langkah kontroversial DOGE di bawah kendalinya memang meninggalkan jejak kelam:
- Pemangkasan Massal: Memaksa puluhan ribu pegawai negeri kehilangan pekerjaan.
- Krisis Bantuan: Memangkas anggaran bantuan luar negeri secara drastis hingga memicu dampak fatal.
- Keamanan Data: Memicu kebocoran data yang sangat sensitif serta gelombang protes massa.
- Kerusakan Lembaga: Menggerogoti Badan Jaminan Sosial (Social Security Administration) dan merusak peran riset ilmiah di AS.
Rentetan aksi ekstrem ini tak hanya memicu sentimen negatif publik, tetapi juga menempatkan Musk sebagai salah satu sosok paling tidak populer di AS saat ini.
Keraguan di Balik Sikap 'Tobat'
Meski mengaku ingin menyudahi keterlibatannya dalam pembongkaran struktur pemerintahan Trump, banyak pihak meragukan ketulusan penyesalan Musk.
The Economist mencatat bahwa Musk tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur dari panggung geopolitik. Ia tetap bersikap ofensif dengan menuduh media secara keliru menyudutkannya sebagai sosok rasis, meski berulang kali melontarkan pernyataan bernada serupa. Ia bahkan membela para pemimpin ekstremis sayap kanan di Eropa.
Dalam pandangan pendampingnya, The Economist secara tegas menilai pandangan politik sang miliarder sebagai hal yang "jelas-jelas fanatik dan penuh prasangka."
Kini, Musk melontarkan narasi baru dengan menjanjikan bahwa perkembangan AI akan membawa dunia ke "era kelimpahan luar biasa" di mana uang tidak lagi relevan dan pemerintah hanya perlu membagikan cek tunai kepada rakyat.
Namun melihat rekam jejaknya di DOGE, publik kian ragu apakah Musk masih memiliki visi yang relevan untuk masa depan.
(fab/fab) Add
source on Google