Dikasih Lihat Foto Sekolah Putri Dibom AS, Trump Ngeles Bilang AI

Redaksi,  CNBC Indonesia
24 July 2026 13:15
Presiden AS Donald Trump berbicara tentang keamanan pemilu selama pidato kenegaraan dari Ruang Timur Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 16 Juli 2026. (SAUL LOEB/Pool via REUTERS)
Foto: (SAUL LOEB/Pool via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 4 bulan sejak serangan udara Amerika Serikat membunuh lebih dari 120 anak di Sekolah Putri Shajareh Tayyebeh, Iran, bukti yang menunjukkan keterlibatan militer AS semakin menguat.

Namun, Presiden Donald Trump justru meragukan keaslian gambar sisa rudal yang ditemukan di lokasi, dengan alasan bisa saja itu hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI).

Berdasarkan analisis mendalam dari Sky News dan lembaga Forensic Architecture yang merekonstruksi bangunan sekolah tersebut dalam bentuk model tiga dimensi, lokasi itu memang sudah berfungsi sebagai sekolah selama bertahun-tahun. Analisis tersebut menepis tuduhan bahwa serangan terjadi karena data intelijen yang sudah usang.

Bukti lain yang sudah terungkap meliputi temuan serpihan rudal Tomahawk milik AS di lokasi kejadian, serta bocoran penilaian analis militer yang mengarah pada tanggung jawab Pentagon.

Dalam wawancara eksklusif bersama Fox News, Trump menghindari memberikan pernyataan tegas terkait hasil penyelidikan, dengan alasan masih perlu berdiskusi dengan para jenderal.

"Saya rasa tidak akan ada yang bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi di sana," ujar Trump.

Saat pewawancara mengingatkan bahwa ada bukti visual serpihan rudal Tomahawk di lokasi kejadian, Trump menjawab, "Bisa saja itu terjadi karena data lama atau kesalahan saat pertempuran berlangsung sengit. Tapi bisa juga gambar yang Anda miliki itu dibuat oleh AI. Saya tahu Anda menunggu laporan pasti, tapi saya rasa tidak akan pernah ada kesimpulan yang mutlak."

Pernyataan tersebut dinilai sebagai contoh nyata bagaimana keberadaan AI kini juga dimanfaatkan untuk menutupi pelanggaran. Teknologi yang bisa menciptakan gambar palsu kini justru dijadikan alasan untuk meragukan bukti asli yang mendokumentasikan tindakan keliru atau kejahatan.

Organisasi seperti Amnesty International pun mulai mendesak transparansi penuh.

"Masyarakat dan keluarga korban berhak mendapatkan kejelasan, pertanggungjawaban, serta keadilan dan ganti rugi," ujar Amanda Klasing, Direktur Hubungan Pemerintah Amnesty International.

"Sampai saat ini pernyataan Presiden Trump berubah-ubah, Pentagon menghalangi penyelidikan anggota parlemen, dan pejabat seperti Menteri Pertahanan Hegseth hanya berulang-ulang menyatakan kasus masih dalam penyelidikan," tambahnya. "Yang kita tahu dengan pasti: militer AS bertanggung jawab atas kematian lebih dari 150 orang dalam serangan rudal presisi ke sekolah yang penuh anak-anak."

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Tidak Berdaya, Tunduk ke 'Penguasa' Amerika Sebenarnya


Most Popular
Features