Mobil Bensin Bakal Tamat, Tandanya Sudah Muncul di Mana-Mana

Redaksi,  CNBC Indonesia
24 July 2026 07:20
Suasana kemacetan di kawasan Tosari-Sudirman, Jakarta, Senin (15/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Suasana kemacetan di kawasan Tosari-Sudirman, Jakarta, Senin (15/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tanda berakhirnya era mobil bensin makin kencang terlihat, seiring kenaikan harga minyak dunia akibat perang di Timur Tengah yang mendongkrak tarif bahan bakar minyak (BBM). Masyarakat di beberapa wilayah tampak makin bergairah beralih ke alternatif penggantinya, yakni mobil listrik (EV).

Sebelumnya, laporan Reuters menyebut penggunaan taksi dan layanan transportasi online (ride-sharing) melonjak tajam di China sepanjang Mei 2026. Menurut Kementerian Transportasi China, sekitar separuh dari total 1,3 juta armada taksi di China telah beralih ke EV, bahkan di kota-kota besar angkanya mendekati 100%.

Di berbagai kota, warga China menyelesaikan 3,05 miliar perjalanan dengan moda transportasi online. Data pemerintah menunjukkan perjalanan dengan layanan ride-sharing tumbuh 6% sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari lalu, dibandingkan periode Maret-Mei pada 2025.

Didi, aplikasi berbagi tumpangan utama, mencatat penambahan 2 juta mobil hibrida atau listrik pada tahun lalu, sehingga total armada non-bahan bakar fosilnya mencapai 8 juta unit, dengan kendaraan listrik (EV) menempuh 75% dari total jarak perjalanan.

Hasilnya, konsumsi bensin dan solar di China pada Mei masing-masing turun 10% dan 14% dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun volume angkutan barang melalui jalan raya meningkat 2% dan perjalanan darat selama libur panjang Hari Buruh (May Day) mencapai rekor tertinggi.

Greenpeace memproyeksikan bahwa pada tahun 2035, 90% dari total jarak tempuh taksi dan layanan berbagi tumpangan akan dilakukan menggunakan kendaraan listrik.

"Seiring naiknya harga BBM, masyarakat makin jarang menggunakan mobil berbahan bakar bensin milik pribadi," ujar Daizong Liu, Direktur Asia Timur di Institute for Transportation & Development Policy di China.

Tren ini menjelaskan bagaimana China berhasil memangkas impor minyak, yang turun 41% pada Juni 2026 dibandingkan tahun lalu, tanpa banyak menggunakan cadangannya. Dengan melakukan hal itu, China telah membebaskan kargo minyak di pasar global yang dibatasi oleh perang dan membantu menekan harga minyak.

"Konflik tersebut mungkin telah mempercepat perubahan perilaku yang sudah berlangsung, membuat China secara struktural kurang bergantung pada minyak daripada yang diasumsikan pasar secara historis," kata analis J.P. Morgan, Natasha Kaneva, dalam sebuah catatan pada 2 Juli.

Jualan Mobil Bensin Anjlok, Mobil Listrik Melejit di Eropa

Fenomena lain terjadi di Eropa. Permintaan EV terus bertumbuh dan menopang pertumbuhan industri otomotif sepanjang Juni 2026. Di saat bersamaan, jualan mobil bensin dan solar anjlok tajam, menurut data Asosiasi Produsen Otomotif Eropa (ACEA) pada Kamis (23/7/2026).

Pertumbuhan registrasi mobil, yang menjadi indikator penjualan, juga membantu merek-merek China memperluas jangkauan mereka lebih jauh di Uni Eropa, Inggris, dan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA).

Total registrasi mobil naik 13,1% menjadi 1.407.332 unit. Registrasi mobil listrik berbasis baterai, plug-in hybrid,, dan hybrid masing-masing meningkat sebesar 51%, 22,7%, dan 17,1%, yang secara keseluruhan mencakup hampir 70% dari seluruh kendaraan baru sepanjang Juni 2026.

Sementara itu, registrasi mobil berbahan bakar bensin dan solar anjlok, masing-masing 12,2% dan 16,9% secara berurutan.

Produsen mobil China seperti BYD, Chery, dan Leapmotor, mencatat pertumbuhan signifikan, dengan penjualan naik 3-6 kali lipat dibandingkan tahun lalu. SAIC dan Geely masing-masing mencatat penjualan yang tumbuh positif 50% dan 11% secara berurutan.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Harga BBM Naik, Jualan Mobil Listrik Langsung Laku Keras


Most Popular
Features