Raksasa Chip Ramai-Ramai Buka Pabrik di Dekat RI, Ini Alasannya?

Redaksi,  CNBC Indonesia
14 July 2026 18:00
Ilustrasi Ritel di Singapura. AP/David Goldman(AP Photo/David Goldman)
Foto: Ilustrasi Ritel di Singapura. AP/David Goldman

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan teknologi Taiwan ramai-ramai memindahkan pabrik semikonduktor mereka ke Singapura. Terbaru, kontraktor manufaktur chip terbesar kedua di Taiwan yang bernama United Microelectronics Corporation (UMC) mengumumkan produksi wafer silikon fotonik di fasilitasnya di Singapura.

Langkah UMC bertujuan untuk memenuhi permintaan atas interkonektivitas optik berkecepatan tinggi dari jaringan data center AI dan hyperscale. UMC berkolaborasi dengan SILITH Technology, perusahaan desain chip lokal. Fasilitas di Singapura ditargetkan mulai berproduksi dalam 18 bulan ke depan.

UMC juga berencana membuka platform fotonik silikon 12 inci mereka untuk pengembangan produk konsumer mulai 2027.

Fotonik silikon adalah teknologi yang memadukan komponen optik dan sirkuit elektronik pada satu chip. Produk buatannya dirancang untuk mengalirkan data menggunakan cahaya, memberikan kecepatan luar biasa tinggi, latensi rendah, dan efisiensi daya untuk data center dan AI.

Sebelum UMC, perusahaan teknologi asal Taiwan lain juga berekspansi di Singapura. Perkembangan ini membuat Singapura sebagai salah satu hub regional untuk rantai pasok semikonduktor global.

Salah satunya adalah Vanguard International Semiconductor Corporation, yaitu produsen chip yang didukung oleh TSMC. Vanguard bermitra dengan NXP Semiconductors asal Belanda untuk membangun pabrik dengan investasi US$ 7,8 miliar.

Singapura butuh listrik

Gelombang investasi di industri semikonduktor Singapura terjadi di saat negara tetangga RI tersebut harap-harap cemas menantikan pasokan listrik dari Indonesia. RI dan Singapura sebetulnya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait ekspor listrik dari RI ke Singapura sejak tahun lalu.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada pekan lalu menyatakan pemerintah Indonesia masih melakukan negosiasi khususnya terkait dengan harga.

"Dan itu kan adalah merupakan satu kesatuan yang kita tandatangani di tahun kemarin. Nah, terkait dengan listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tapi kan kita masih menegosiasi tentang harga dan regulasi kita kan memang harga itu ada di pemerintah. Kita pengen ada win-win, saling menguntungkan," terang Bahlil ditemui di Istana Negara, Senin (6/7/2026). "Tapi saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu kok. Kita ingin semuanya harus punya manfaat yang, yang win-win-lah untuk kedua belah pihak ya. (Sekarang) belum win-win. Saya merasa belum win-win kalau sekarang harganya."

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani buka suara perihal rencana Indonesia yang akan melaksanakan ekspor listrik ke Singapura. Adapun kapasitas ekspornya bisa mencapai 3,4 Giga Watt (GW) selama beberapa tahun.

Rosan menyampaikan, kelak Danantara yang akan bertindak sebagai pelaku ekspor tersebut bekerja sama dengan perusahaan asal Singapura yakni Keppel Electric, Sembcorp Industries dan Singapore Energy Interconnections.

"Kita sebagai perusahaan dari Indonesia-nya yang akan [mengembangkan listrik]. Keppel dan Sembcorp sebagai off-taker-nya ya. Ya, karena mereka kan juga BUMN," terang Rosan ditemui di Istana Negara, Senin (6/7/2026).

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Terigur Duit AI, Pabrik Toilet Sekarang Mau Bisnis Chip


Most Popular
Features