Dunia Dalam Bahaya Besar, 200 Pakar Sudah Teriak Beri Warning
Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran soal AI mulai merambah ke sektor ekonomi. Lebih dari 200 peneliti dan ekonom, termasuk 15 peraih Nobel mendorong pemerintah untuk bertindak pada potensi risiko ekonomi karena AI.
Mereka mengatakan AI mendorong transformasi ekonomi yang lebih besar. Bahkan jika dibandingkan Revolusi Industri, waktu yang dibutuhkan jauh lebih singkat.
"Uap, listrik, dan komputer memberikan waktu puluhan tahun untuk masyarakat bisa beradaptasi. AI mungkin memberikan kita beberapa tahun," kata profesor dari Universitas Virginia, Anton Korinek, dikutip dari Reuters, Selasa (14/6/2026).
Pernyataan itu meminta adanya penelitian yang lebih mendalam pada dampak ekonomi karena keberadaan AI.
Selain itu juga pemerintah didorong bisa mulai membangun kebijakan dan institusi yang diperlukan. Termasuk memastikan manfaatnya pada masyarakat dan dapat mengatasi risiko kehilangan pekerjaan dalam skala besar.
"Kita tidak bisa mengimprovisasi strategi dan institusi di tengah transformasi, menunggu kepastian artinya kita terlalu terlambat," imbuh Korinek.
Inisiatif ini dilakukan Korinek bersama dengan tim riset ekonomi Anthropic. Selain itu juga ada ekonom Erik Brynjolfsson, Ajay Agrawal, dan Tom Cunningham.
Beberapa nama lain yang ikut menandatangani inisiatif seperti kepala keuangan OpenAI Sarah Friar, Kepala Ilmuwan Google DeepMind Jeff Dean, salah satu pendiri Anthropic Jack Clark, dan tim riset ekonomi pembuat chatbot Claude.
Peraih Nobel yakni Michael Spence, Daron Acemoglu, dan Simon Johnson juga ikut serta dalam gagasan ini.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]