Muncul Ancaman Baru di Tetangga RI, Negara Lain Langsung Bertindak
Jakarta, CNBC Indonesia - Australia dilaporkan menemukan beberapa burung yang terkonfirmasi terjangkit flu burung H5N1. Negara tetangganya, Selandia Baru mulai bersiap untuk menghadapi penyakit tersebut.
Salah satu kasus ditemukan pada burung skua cokelat di pantai Taman Nasional Cape Le Grand Australia Barat. Hewan itu positif terjangkit virus.
Beberapa minggu kemudian di pantai selatan ditemukan hal serupa pada enam burung lain. Salah satunya berjenis burung petrel raksasa.
Dokter hewan satwa liar dan penasihat sains senior di Departemen Konservasi Selandia Baru (DDOC), Kate McInnes, telah mengetahui terkait penyebaran virus itu di Australia dan mengetahui harus melakukan sesuatu.
Dia bersama dokter hewan satwa liar DOC lainnya mulai melakukan vaksinasi populasi perkembanganbiakan kakapo dan emapat spesies burung terancam punah atau sangat terancam.
Ahli biologi konservasi, Andrew Digby yang memimpin program pemerintah pemulihan kakapo dan takahe mengatakan pihaknya melakukan semua hal untuk memastikan setiap spesies tetap terjaga.
"Kami akan melakukan semua yang kami bisa, memastikan spesies-spesies ini bisa bertahan," ucapnya, dikutip dari Science, Jumat (10/7/2026).
McInnes bersama timnya telah bekerja sejak 2024. Saat itu mereka menyusun rencana darurat untuk burung-burung langka di Selandia Baru dan menguji kandidat vaksin H5N1.
Vaksin itu dikembangkan oleh perusahaan kesehatan Zoetis, berisi versi yang dinonaktifkan dari strain terkait, H5N2. Tujuannya agar bisa memunculkan antibodi pada protein di permukaan virus.
Lima spesies dari masing-masing spesies yang terancam telah menerima dua suntikan dalam jarak 1 bulan. Tim melakukan respon imun dengan mengambil sampel daerah, hasilnya empat dari lima spesies memiliki antibodi yang meningkatnya dalam 6 bulan.
Namun satu spesies, yang dikenal sebagai burung berkaki panjang hitam mengalami penurunan antibodi setelah tiga bulan.
Rencananya 300 burung akan divaksin berdasarkan hasil tersebut. Ratusan burung itu menjadi populasi cadangan untuk menyelematkan setiap spesies dari H5N1.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]