Bos PHK Karyawan Diganti AI Biar Tak Bayar Gaji, Kantong Malah Boncos

Redaksi, CNBC Indonesia
Jumat, 10/07/2026 19:10 WIB
Foto: Ilustrasi PHK. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak perusahaan awalnya antusias mengganti atau mengurangi tenaga kerja manusia dengan kecerdasan buatan (AI), dengan harapan memangkas biaya operasional jangka panjang. Namun kenyataan pahit kini mulai terungkap. Tagihan biaya penggunaan AI justru membengkak dan sering kali melebihi gaji karyawan yang sudah dirumahkan.

Sebuah laporan terbaru dari firma akuntan terkemuka KPMG yang dirilis awal Juli 2026, dikutip situs teknologi Futurism dan The Register, membuka mata para pemimpin perusahaan bahwa AI bukanlah solusi murah yang bisa dipakai secara cuma-cuma.

Selama masa uji coba, penyedia layanan AI biasanya menawarkan kontrak harga tetap atau diskon besar agar perusahaan tertarik mencoba. Namun seiring melonjaknya biaya daya komputasi, hampir semua pengembang model bahasa besar kini beralih ke sistem pembayaran berdasarkan pemakaian atau dihitung per unit data yang diproses.


Artinya, makin sering AI dipakai, makin besar tagihannya. Banyak direksi yang awalnya mengira biayanya tetap, kini terkejut menerima rekening yang nilainya terus naik drastis.

Survei KPMG yang melibatkan 2.145 eksekutif senior dari 20 negara menemukan fakta mencengangkan. Sebanyak 29% mengaku tidak tahu persis dari mana asal kenaikan biaya AI tersebut, sedangkan 33% menyatakan ketidaktahuan mereka soal hitungan ekonomi AI justru menjadi penghambat. Hanya sekitar seperempat perusahaan yang memiliki sistem pengawasan anggaran AI secara jelas dan terukur.

"Banyak organisasi masih membangun kemampuan untuk meramalkan, memantau, dan mengelola pengeluaran AI secara tepat," tulis tim peneliti KPMG dalam laporannya.

Logika awal para CEO sederhana yaitu mengganti karyawan dengan AI sehingga biaya gaji, tunjangan, dan cuti akan hilang.

Namun, kenyataannya berbeda. AI membutuhkan infrastruktur server dan listrik yang tidak murah, tenaga ahli khusus, dan masih membutuhkan intervensi manusia untuk "memperbaiki" kesalahan AI.

Dampaknya, tagihan penggunaan AI yang diukur menggunakan token, membengkak berkali-kali lipat karena pemakaian tidak dibatasi. Dalam beberapa kasus yang dilaporkan, perusahaan malah mengeluarkan biaya untuk AI yang nilainya dua hingga tiga kali lipat dari anggaran gaji tim yang sebelumnya diberhentikan.

Joe Wilkins, penulis laporan di Futurism, menyebutkan bahwa selama ini AI lebih sering dipakai sebagai alasan untuk menekan posisi tawar karyawan, bukan solusi efisiensi yang sesungguhnya.

"Banyak bos menganggap AI seperti alat yang bisa dipasang dan langsung berjalan tanpa biaya berkelanjutan. AI padaha  membutuhkan biaya daya komputasi yang terus mengalir, persis seperti listrik atau air," tulisnya.

Akibatnya, strategi pemangkasan biaya yang mengandalkan AI kini kembali dikaji ulang. Banyak perusahaan mulai sadar bahwa mempertahankan tenaga kerja yang terlatih justru lebih terukur biayanya dibandingkan mengandalkan sistem yang tagihannya tak terduga.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Jurus Komdigi Dorong Kemandirian Teknologi & Jamin Keamanan Data