Rils 'BYD Baru', Elon Musk Dipepet Habis China

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Kamis, 09/07/2026 07:45 WIB
Foto: Starlink (Starlink.com)

Jakarta, CNBC Indonesia - China terus mencoba untuk mengalahkan Amerika Serikat (AS). Salah satunya dalam dominasi di luar angkasa, yang kini dimiliki perusahaan asal AS milik Elon Musk SpaceX.

SpaceX diketahui telah menempatkan 10 ribuan layanan internet berbasis satelit Starlink dalam beberapa tahun terakhir. Dominasi inilah yang ingin direbut oleh China melalui proyek SpaceSail.

Sejauh ini SpaceSail hanya memiliki ratusan satelit saja di orbit Bumi rendah dibandingkan Starlink. Namun proyek milik perusahaan Shanghai Satelitte Technology (SSST) berupaya untuk bisa melayani wilayah yang tidak bisa dimasuki layanan Starlink.


"SpaceSail sengaja menargetkan tempat yang Starlink menghadapi masalah politik atau regulasi," kata Pendiri Orbital Gateway Consulting, Blaine Curcio dikutip dari The Guardian, Rabu (8/7/2026).

Dia juga menyamakan SpaceSail dengan BYD. Produsen mobil listrik China itu memanfaatkan subsidi pemerintah untuk bisa mengalahkan Tesla dalam penjualan di ranah global.

SSST yang didirikan pada 2023 didukung sejumlah lembaga milik negara, yakni Akademi Ilmu Pengetahuan China dan Pemerintah kota Shanghai.

Tujuan pembentukannya memiliki tujuan menyediakan internet broadband dengan kecepatan tinggi, aman dan andal di seluruh dunia.

Selain itu, Lan Xinzhen dari Beijing Review mengatakan SpaceSail mempertimbangkan soal keamanan nasional. Termasuk juga akan mendukung proyek luar negeri, perdagangan laut, dan misi diplomatik, dengan melepas ketergantungan dengan perusahaan atau infrastruktur negara Barat.

SSST didanai sebesar 6,7 miliar yuan (Rp 17,7 triliun) dari lembaga negara. Sementara proyek SpaceSail didanai pemerintah dan entitas korporasi atau organisasi ekonomi asal China untuk investasi terbatas.

SpaceSail pertama kali meluncurkan satelitnya pada Agustus 2024. Saat itu 18 satelit panel datar dikirimkan menumpang roket Long March 6A.

Dua bulan kemudian, 18 satelit diluncurkan dan dilanjutkan pada Desember dengan 18 satelit kembali dikirimkan.

Sebanyak 12 peluncuran dengan terakhir pada bulan Juni 2026 lalu telah dilakukan. Setidaknya 200 satelit aktif yang kini berada di liar angkasa.

Akhir 2026, diperkirakan akan ada 648 satelit aktif. Bersamaan, SSST bertujuan untuk memulai layanan komersial lebih luas.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Intip Potensi Tokenisasi Aset Jadi Investasi Digital Masa Depan