Dunia Makin Suram, Elon Musk Sibuk Bakar Uang Rp 366 Triliun
Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan roket dan satelit milik Elon Musk, SpaceX, punya ambisi besar di masa depan. Mulai dari membangun sistem dan teknologi canggih, hingga memahami alam semesta yang bernilai sangat mahal.
SpaceX sendiri secara resmi telah mengungkapkan rencana go public dengan memberikan gambaran soal keuangan dan kepemimpinan perusahaan. Termasuk detail terkait anggota dewan direksi, penjualan, laba, pengeluaran dan cara perusahaan menjalankan bisnis.
"Untuk membangun sistem dan teknologi yang diperlukan untuk membuat kehidupan multiplanet, memahami hakikat sejati alam semesta dan menyebarkan cahaya kesadaran ke bintang-bintang," kata SpaceX dalam prospektusnya terkait misi yang akan dijalani, dikutip dari CNN Internasional, Jumat (22/5/2026).
Untuk mencapai ambisi tersebut, SpaceX menjelaskan akan terus memproduksi dan meluncurkan armada satelit dengan cepat, untuk mendukung teknologi komunikasi Starlink. Perusahaan juga memanfaatkan Matahari dalam mendukung kecerdasan buatan (AI), dan membangun pangkalan di Bulan serta kota yang ada di planet lain.
SpaceX membutuhkan uang yang banyak untuk melakukannya, dan itu alasan mengapa butuh investor.
Pendapatan perusahaan mencapai US$18,7 miliar (Rp331 triliun) tahun lalu atau naik 33% dari tahun sebelumnya. Namun di sisi lain SpaceX juga merugi sejak mengantongi keuntungan US$791 juta (Rp14 triliun) pada 2024, tercatat rugi US$4,9 miliar (RpRp86 miliar) pada 2025 lalu.
Kerugian yang lebih besar bakal terus berlanjut hingga 2026. Mengutip CNN Internasional, SpaceX merugi US$4,3 miliar (Rp76 miliar) selama tiga bulan pertama tahun ini dengan pendapatan US$4,7 miliar (Rp83 miliar).
Elon Musk Bakar Uang Rp 366 Triliun Demi Cuan Gede
Belanja infrastruktur AI juga butuh uang yang sangat banyak. Tahun lalu, perusahaan menghabiskan US$20,7 miliar (Rp366 triliun) yang sebagian besarnya yakni US$12,7 miliar (Rp224 triliun) untuk AI.
Namun SpaceX berharap tidak selalu merugi. Dalam uraiannya, perusahaan terdapat peluang pendapatan sebesar US$28,5 triliun (Rp504 triliun). Masing-masing US$370 miliar solusi berbasis luar angkasa, US$ 1,6 triliun untuk konektivitas yakni US$870 miliar broadband dan US$740 miliar seluler dari Starlink, serta US$26,5 triliun dari AI.
Selain itu, peluang juga mencakup US$2,4 triliun untuk rencana pusat data luar angkasa dan US$670 miliar potensi langganan konsumen. Adapula potensi pendapatan iklan digital senilai US$600 miliar dan aplikasi perusahaan US$22,7 triliun.
Ambisi besar perusahaan Elon Musk yang notabene merupakan orang terkaya di dunia, menunjukkan dunia saat ini makin sengit berlomba-lomba 'membakar uang' demi mengembangkan teknologi AI dengan iming-iming laba berkali-kali lipat sebagai imbalan di masa depan.
Masyarakat Dihantui Ketakutan
Di saat yang sama, kelas pekerja dihantui ketakutan dan kecemasan bahwa AI akan menggantikan peran mereka. Pembangunan infrastruktur canggih juga mendatangkan masalah besar terkait krisis air dan listrik yang berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat luas.
Belum lagi penyebaran disinformasi yang makin membludak, serta modus penipuan canggih yang ditopang teknologi AI. Berbagai isu ini seakan dikesampingkan atas nama laba untuk segelintir pihak dan pertumbuhan efisiensi-produktivitas bagi pebisnis.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]