Internasional

Tarif Listrik Naik 90%, Warga Teriak-Pabrik Terancam Bangkrut

Redaksi, CNBC Indonesia
Rabu, 08/07/2026 15:15 WIB
Foto: Gedung data center Meta di Mansfield AS. (Dok. Grant Blankenship / Georgia Public Broadcasting)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) sudah menciptakan beberapa krisis baru secara bersamaan. Krisis yang paling terlihat adalah kelangkaan chip memori global yang telah mendongkrak harga jual perangkat-perangkat elektronik konsumen seperti HP, laptop, dan konsol game.

Selain itu, krisis listrik juga mulai kencang di wilayah-wilayah padat infrastruktur data center AI berskala besar di Amerika Serikat. Ambil contoh di Sugarcreek, Ohio, Amerika Serikat (AS).

Desa yang dikenal sebagai 'Swiss Kecil Ohio' itu menjadi salah satu yang mengalami lonjakan tarif listrik akibat permintaan listrik yang tinggi untuk kebutuhan data center AI. Belden Brick Company yang merupakan pabrik bata swasta terbesar di AS, mengaku tarif listriknya bengkak 90% sepanjang tahun lalu.


Pabrik berusia 141 tahun itu mengatakan tagihan listrik bulanan melonjak dari US$1.600 (Rp28 jutaan) menjadi US$12.000 (Rp216 jutaan), dikutip dari Reuters, Rabu (8/7/2026). Belden Brick merupakan salah satu contoh di antara pabrik-pabrik lainnya di AS yang mengalami lonjakan tarif listrik gara-gara pertumbuhan data center AI yang kian masif.

Reuters mencatat bahwa tagihan listrik untuk pabrik meningkat lebih cepat ketimbang tagihan listrik rumah tangga atau bisnis lainnya. Kesimpulan itu didapat dari kajian Reuters terkait data energi, serta wawancara dengan puluhan pabrik dan advokat industri.

Pemerintah federal, negara bagian, dan daerah telah menerima keluhan masyarakat terkait tarif listrik. Muncul pula kekhawatiran mengenai stabilitas jaringan listrik. Pemerintah akhirnya mendesak perusahaan teknologi raksasa untuk membayar lebih atas kebutuhan listrik yang mereka perkirakan.

Namun, beberapa usulan mereka menyamaratakan pabrik-pabrik berskala lebih kecil dengan raksasa teknologi seperti Meta dan Amazon, yang kebutuhan energinya bisa mencapai hingga 50 kali lipat dibandingkan kebutuhan perusahaan manufaktur besar sekalipun.

Lembaga Energi Internasional memproyeksikan pertumbuhan permintaan listrik di AS dari 2025-2030. Data center disebut akan menguras 203,4 terawatt-hours (twh) atau terbesar di antara kebutuhan listrik lainnya. Industri berada pada peringkat kedua dan memakan 62,6 twh. Selanjutnya ada transportasi (58,5 twh), heat pump (37,8 twh), pendingin (28 twh), gedung lainnya (22,8 twh), serta sektor-sektor sisanya (12,9 twh).

Meta menolak berkomentar, sementara Amazon tidak merespons permintaan komentar dari Reuters.

Tingginya tarif listrik dan ketidakpastian regulasi mengancam masa depan pabrik-pabrik di AS. Hal ini turut mengancam ambisi Presiden AS Donald Trump untuk memprioritaskan manufaktur domestik, menurut pakar kebijakan.

Pabrik-pabrik bisa saja mempertimbangkan kenaikan harga produk, mengalami perlambatan pertumbuhan, atau untuk beberapa kasus mempertimbangkan relokasi ke wilayah lain.

Belden Brick sudah menaikkan harga bata 4% dan profitnya tetap tergerus. Jika tagihan tetap naik, pabrik-pabrik lokal mungkin akan segera mencapai batas kemampuan dalam hal pemangkasan biaya atau kenaikan harga.

"Akan ada perusahaan-perusahaan yang berada di posisi sangat kritis," ujar Belden.

Gedung Putih menyatakan bahwa Trump telah mengambil langkah untuk meringankan beban bagi kalangan manufaktur. Hal ini merujuk pada perannya saat memfasilitasi penandatanganan "ikrar perlindungan bagi pelanggan listrik" oleh perusahaan-perusahaan teknologi awal tahun ini, serta instruksi untuk membangun lebih banyak pembangkit listrik di wilayah PJM yang didanai oleh perusahaan-perusahaan teknologi tersebut.

Para pendukung industri data center mengatakan ekspansi pesat industri ini mendorong investasi yang sudah lama tertunda pada jaringan listrik AS, sembari menyoroti faktor-faktor lain yang memicu kenaikan biaya, seperti penonaktifan pembangkit listrik dan keterbatasan kapasitas transmisi.

Pertumbuhan data center "membuat kita akhirnya harus bergulat dengan keputusan-keputusan sulit yang memang mau tidak mau harus kita hadapi," ujar Aaron Tinjum, Wakil Presiden bidang Energi di Data Center Coalition, sebuah asosiasi industri.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Jurus Komdigi Dorong Kemandirian Teknologi & Jamin Keamanan Data