Krisis 2026 Makin Parah, Perang Iran Bawa Petaka Satu Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis kelangkaan chip memori sudah berdampak ke industri perangkat elektronik konsumen seperti HP dan laptop. Produsen mulai menaikkan harga jual ke konsumen gara-gara harga chip melonjak drastis sejak akhir 2025.
Krisis chip ini ditengarai tingginya permintaan chip terkait teknologi kecerdasan buatan (AI). Chip AI berbeda dengan chip konvensional untuk perangkat elektronik konsumen.
Produsen cenderung memprioritaskan produksi chip AI karena lebih menguntungkan, sehingga terpaksa mengesampingkan produksi chip konvensional. Padahal, permintaan untuk keduanya sama-sama tinggi.
Pasokan yang tak cukup menampung permintaan menciptakan kelangkaan dan berimbas pada kenaikan harga.
Di sisi lain, perang yang dimulai Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran ternyata turut memperparah krisis chip. Pemangku kebijakan di Korea Selatan (Korsel) memperingatkan perang yang menggila di Timur Tengah (Timteng) akan mengganggu pasokan untuk komponen-komponen manufaktur semikonduktor.
Industri chip Korsel yang menyuplai sekitar dua per tiga chip memori global dikhawatirkan akan terimbas konflik berkepanjangan di Timteng. Pasalnya, perang akan memicu kenaikan harga dan biaya energi, kata Anggota Majelis Nasional Korsel, Kim Young-bae, dalam rapat bersama para petinggi perusahaan seperti Samsung Electronics dan kelompok-kelompo dagag.
"Para petinggi [industri teknologi] mengemukakan kemungkinan bahwa produksi semikonduktor dapat terganggu jika beberapa bahan utama ini tidak dapat diperoleh dari Timteng," katanya dalam sebuah pengarahan kepada wartawan, dikutip dari Reuters, Jumat (6/3/2026).
Ia menyebut Helium sebagai salah satu contoh. Helium adalah komponen penting untuk manajemen panas selama proses produksi semikonduktor. Sejauh ini, tak ada alternatif lain yang memiliki fungsi serupa.
Helium hanya diproduksi dari segelintri negara, dengan Qatar merupakan pemain utama di industri tersebut.
Peringatan ini muncul ketika para produsen chip bergulat dengan hambatan pasokan yang parah akibat melonjaknya permintaan chip dari operator data center AI yang telah memperketat pasokan ke banyak industri lain, termasuk HP, laptop, dan mobil.
SK Hynix mengatakan sudah mengamankan rantai pasok yang beragam dan memiliki cadangan helium yang besar, sehingga kondisi di Timteng tak akan berdampak pada perusahaan. Samsung menolak berkomentar.
TSMC mengatakan belum mengantisipasi dampak yang signifikan saat ini. Perusahaan akan terus memantau situasi.
Produsen chip kontrak GlobalFoundries mengatakan sudah menghubungi langsung beberapa penyuplai, konsumen, dan mitra di Timteng. Rencana mitigasi juga segera dilakukan.
Kementerian Perindustrian Korsel mengatakan negaranya sangat bergantung ke Timteng untuk memasok 14 item dalam rantai pasok chip, termasuk peralatan inspeksi bromin dan serpihan kayu, tetapi banyak di antaranya dapat diperoleh di dalam negeri atau dari negara lain.
Industri chip Korsel juga memperingatkan bahwa krisis ini dapat menjadi hambatan bagi rencana perusahaan teknologi besar untuk membangun data center AI di Timteng dalam jangka panjang. Hal ini akan membebani permintaan chip, kata Kim, anggota parlemen dari partai yang berkuasa.
Amazon mengatakan pada awal pekan ini bahwa beberapa data center-nya di Uni Emirat Arab dan Bahrain rusak akibat serangan drone, yang memicu pertanyaan seputar laju ekspansi perusahaan teknologi besar di kawasan tersebut.
Raksasa teknologi AS seperti Microsoft dan Nvidia telah memposisikan UEA sebagai pusat regional untuk komputasi AI yang dibutuhkan untuk mendukung layanan seperti ChatGPT.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]