Alasan Kutub Selatan Beku Sebelum Utara Ungkap Tanda Kiamat Baru
Jakarta, CNBC Indonesia - Jutaan tahun silam, Bumi jauh lebih hangat dari saat ini. Antartika yang kini tertutup es tebal pernah punya hutan lebat dengan suhu serupa dengan wilayah sub-tropis. Namun, Kutub Selatan tiba-tiba membeku 34 juta tahun yang lalu, jauh lebih awal dibanding Kutub Utara yang baru memiliki lapisan es sekitar 3 juta tahun yang lalu.
Sebuah teori baru menjelaskan alasan Antartika dan Artik membeku pada waktu yang berbeda puluhan juta tahun. Ternyata, memutihnya ujung utara dan selatan Bumi tidak hanya dipengaruhi oleh perubahan iklim.
Menurut penelitian terbaru yang dimuat di IFLScience, peristiwa kunci terjadi ketika benua raksasa Gondwana perlahan terpecah. Sekitar 34 juta tahun lalu, Antartika terpisah dari Amerika Selatan dan Australia, membuka jalur laut bernama Selat Drake dan Jalur Tasmania.
Pemisahan ini melahirkan Arus Lingkar Antartika, aliran laut terkuat di dunia yang berputar terus mengelilingi benua selatan. Arus ini berfungsi seperti "pagar alami" yang mencegah air hangat dari samudra di sekitar khatulistiwa mencapai pantai Antartika. Tanpa pasokan panas itu, suhu benua terus merosot hingga salju dan es tidak lagi meleleh, lalu membentuk lapisan es raksasa.
Peran Karbon Dioksida dan Topografi
Selain pergeseran lempeng, dua faktor lain mempercepat pembekuan. Kadar CO2 atau karbon dioksida turun drastis dari sekitar 1.200 ppm menjadi 600-700 ppm, sehingga melemahkan efek rumah kaca global.
Lalu ada faktor ketinggian tanah. Gerakan mantel bumi mengangkat dataran tinggi di Antartika Timur hingga lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Makin tinggi permukaan berarti udara makin dingin sehingga menciptakan kondisi ideal untuk pembentukan gletser abadi.
Berbeda dengan itu, Kutub Utara adalah lautan yang dikelilingi daratan besar. Konfigurasinya tidak membentuk arus laut terisolasi yang sama. Air hangat dari Samudra Atlantik dan Pasifik masih bisa mengalir masuk, sehingga butuh waktu 30 juta tahun lebih lama hingga es laut terbentuk secara tetap di sana.
Penemuan ini mengubah pandangan lama soal "kiamat" perubahan iklim. Sebelumnya ilmuwan mengira penurunan kadar CO2 adalah satu‑satunya penyebab utama. Kini, terbukti bahwa geologi dan arus laut menentukan seberapa cepat perubahan iklim berlangsung.
"Memahami mengapa Antartika membeku duluan membantu kita memprediksi cara kedua kutub akan merespons pemanasan global hari ini," tulis tim peneliti.
Jika dulu perubahan arus laut bisa membekukan benua, sebaliknya gangguan arus akibat pemanasan kini bisa mencairkan es jauh lebih cepat dari perkiraan awal. Dengan pemahaman baru ini, pandangan baru muncul soal perubahan iklim tidak hanya bergantung pada emisi gas, tetapi juga pada struktur dasar bumi dan cara samudra mendistribusikan panas.
(dem/dem) Add
source on Google