Pedagang Kecil Bisa Bangkrut Dihantam Krisis 2026, Kondisinya Parah

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 29/06/2026 19:00 WIB
Foto: Harga RAM di Indonesia mengalami kenaikan sejak beberapa bulan lalu. Fenomena tersebut terjadi saat krisis chip RAM terjadi secara global. (CNBC Indonesia/Novina)

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis kelangkaan chip memori global akibat ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah menghantam industri perangkat elektronik konsumen seperti HP, laptop, konsol game, serta peralatan rumah tangga. Banyak pabrikan perangkat elektronik yang terpaksa menaikkan harga jual karena gangguan rantai pasokan yang memicu biaya komponen membengkak.

Raksasa teknologi seperti Apple dan Microsoft bahkan tak bisa mengamankan diri dan ikut terdampak. Baru-baru ini, Apple mengumumkan penyesuaian harga untuk model-model MacBook dan iPad. Apple menyebut kenaikan harga komponen saat ini berada pada level yang belum pernah dirasakan sebelumnya.


Jika raksasa teknologi dengan modal besar dan kapasitas rantai pasokan solid terkena dampak, lantas bagaimana dengan nasib pedagang-pedagang kecil?

Pada awal tahun ini, Mono Technologies merakit dan mengapalkan sekitar 1.000 unit produk flagship, yakni alat pengembangan router seharga US$600 atau setara Rp10 jutaan. Co-founder Tomaz Zaman yang mendirikan Momo pada 2024, mendapat sambutan awal yang positif dari para penggemar jaringan, yang menggunakan produk tersebut untuk mempercepat koneksi internet mereka.

Baru mulai bersinar, tiba-tiba Mono harus dihadapkan pada krisis chip memori yang membuat semua harga produksi perangkat elektronik jadi super mahal. Zaman mengaku tak tahu harus berbuat apa, terlebih ada 1.300 konsumen yang sudah memberikan biaya deposit senilai US$100 (Rp1,7 juta) untuk produksi selanjutnya.

Biaya yang harus dikeluarkan Mono untuk 8 gigabyte jenis DRAM dari Micron melonjak menjadi US$300 (Rp5,3 jutaan) saat ini dibandingkan US$35 (Rp624.000) ketika ia pertama kali mengembangkan produk tersebut.

Zaman mengatakan di perusahaannya yang beranggotakan tiga orang itu, ia belum memutuskan apakah akan melanjutkan produksi gelombang kedua dengan kenaikan harga setidaknya sepertiga, atau meluncurkan model baru dengan kapasitas memori 75% lebih kecil.

"Bahkan untuk router di kelas kami, kualitasnya akan sangat rendah kalau harga jualnya US$900-1.000 (Rp16-17 jutaan)," kata Zaman.

Pengalaman Zaman menjadi lumrah di kalangan pasar elektronik konsumen, mulai dari perangkat kawakan seperti iPad dan konsol Xbox, hingga produk-produk niche yang baru saja melewati tahap pengujian. Harga komponen yang melonjak tajam telah mengguncang rantai pasokan global gara-gara ledakan AI.

Ledakan AI itu membuat para produsen chip kawakan seperti Nvidia menyerap jumlah memori yang terus meningkat bagi prosesor dan sistem canggih mereka. Alhasil, produksi chip memori konvensional untuk perangkat elektronik konsumen dikesampingkan dan mengalami kelangkaan.

Ketika raksasa teknologi seperti Apple dan Microsoft mengumumkan kenaikan harga pekan ini, alarm bahaya makin kencang. Mereka memiliki cadangan kas yang besar, daya tawar kuat dalam rantai pasok, serta basis pelanggan yang mencapai jutaan atau miliaran.

Di saat bersamaan, bisnis yang jauh lebih luas justru menghadapi situasi yang berpotensi sangat sulit. Sebagian besar perusahaan elektronik konsumen memiliki margin keuntungan yang tipis dan tidak bisa dengan percaya diri menaikkan harga di tengah kondisi ekonomi yang sedang bergulat dengan tekanan inflasi.

GoPro, produsen action camera yang sedang kesulitan, bulan ini memperingatkan bahwa perusahaan tersebut bisa saja gulung tikar setelah biaya komponen memori melonjak antara 80% hingga 115% pada akhir kuartal pertama. Sementara itu, saham produsen speaker Sonos telah turun 23% tahun ini akibat tekanan harga memori terhadap margin keuntungan.

Nabila Popal, seorang analis di IDC, menggambarkan situasi saat ini sebagai "krisis eksistensial yang nyata" bagi perusahaan-perusahaan seperti produsen HP Android berskala kecil atau "pemain lokal yang memproduksi perangkat dengan harga di bawah US$100 (Rp1,7 jutaan)".

"Mereka tidak akan bisa mendapatkan pasokan memori karena pemasok memori hanya melayani permintaan dari pemain-pemain besar," ujar Popal.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Jurus Komdigi Dorong Kemandirian Teknologi & Jamin Keamanan Data