Muncul Krisis Baru di Amerika, Facebook Minta Karyawan Berhemat

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
29 June 2026 13:55
Bersiaplah Hadapi Kiamat Lapangan Kerja & Gejolak Politik Akibat AI
Foto: Infografis/ Bersiaplah Hadapi Kiamat Lapangan Kerja & Gejolak Politik Akibat AI/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI) sudah menimbulkan banyak krisis. Selain gelombang PHK, krisis air bersih, dan tagihan listrik yang membengkak, ada pula krisis kelangkaan chip memori global yang memicu kenaikan harga perangkat elektronik konsumen seperti laptop dan HP.

Bukan cuma itu, kini Amerika Serikat (AS) yang menjadi salah satu pusat pengembangan AI juga dilanda krisis baru. Google sampai harus membatasi penggunaan model AI Gemini oleh Meta setelah perusahaan media sosial tersebut.

Pembatasan ini dilakukan karena Meta dikabarkan meminta kapasitas komputasi yang melebihi kemampuan Google untuk menyediakannya. Informasi ini diungkap dalam laporan Financial Times.

Laporan tersebut menyebutkan, Google yang berada di bawah naungan Alphabet sekitar Maret lalu memberi tahu Meta bahwa mereka tidak dapat memenuhi seluruh kapasitas Gemini yang ingin dibeli perusahaan tersebut.

Kekurangan kapasitas komputasi itu dilaporkan mengganggu sekaligus menunda sejumlah proyek AI internal induk perusahaan Facebook itu. Financial Times juga melaporkan bahwa beberapa pelanggan Google lainnya ikut terdampak, meski skalanya lebih kecil.

Meta disebut menjadi perusahaan yang paling merasakan dampaknya karena memiliki permintaan penggunaan model AI Google yang sangat tinggi.

Akibat pembatasan tersebut, Meta dilaporkan meminta para karyawannya berhemat dalam menggunakan token AI. Sebagai informasi, token AI merupakan satuan yang digunakan untuk mengukur penggunaan layanan AI.

Laporan ini muncul ketika perusahaan-perusahaan teknologi terus menggelontorkan investasi miliaran dolar AS untuk membeli chip dan membangun data center.

Meski demikian, industri masih menghadapi kesulitan mendapatkan kapasitas komputasi yang memadai guna memenuhi lonjakan permintaan layanan AI.

Dikutip dari Reuters, Senin (29/6/2026), pada kuartal I yang berakhir Maret, pendapatan Google Cloud tercatat mencapai US$20 miliar.

Namun, CEO Google, Sundar Pichai, mengatakan keterbatasan kapasitas komputasi menghambat pertumbuhan yang seharusnya bisa lebih tinggi, sekaligus membuat antrean atau backlog bisnis unit cloud hampir dua kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Sudah Kaya Rp4.500 Triliun, Pendiri Google Menyesal Pensiun


Most Popular
Features