Perusahaan Nyaris Bangkrut Mendadak Mau IPO Sasar Rp 530 Triliun
Jakarta, CNBC Indonesia - Produsen chip memori asal Korea Selatan, SK Hynix, berencana menghimpun dana hingga US$29,4 miliar atau sekitar Rp530 triliun melalui pencatatan saham perdana (IPO) di bursa Amerika Serikat (AS).
Jika terealisasi, aksi korporasi ini akan menjadi salah satu penawaran saham terbesar di dunia dan menegaskan tingginya minat investor terhadap saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI).
SK Hynix, pemasok chip untuk Nvidia, mengumumkan rencana tersebut pada Rabu (24/6). Perusahaan ingin memanfaatkan euforia pasar terhadap sektor AI yang masih berlangsung kuat.
Bila penawaran dilakukan pada kisaran harga tertinggi, aksi ini akan menjadi penjualan saham terbesar kedua di dunia setelah penawaran umum perdana (IPO) SpaceX senilai US$85,7 miliar pada awal bulan ini. Nilai tersebut juga melampaui IPO Saudi Aramco senilai US$25,6 miliar pada 2019 dan penawaran Alibaba yang bernilai serupa pada 2014.
Rencana pencatatan saham tersebut menjadi cermin tingginya minat investor global terhadap saham yang berkaitan dengan AI, meskipun volatilitas di pasar teknologi dan semikonduktor AS meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Analis Senior NH Investment & Securities, Ryu Young-ho, menilai pencatatan saham SK Hynix di Nasdaq dapat memberikan keuntungan besar bagi investor.
"Manfaat paling menarik bagi investor adalah SK Hynix akan diperdagangkan di Nasdaq bersama pesaingnya, Micron, sehingga memberi peluang bagi perusahaan untuk mendapatkan penilaian ulang di pasar AS," kata Ryu, dikutip dari Reuters, Kamis (25/6/2026).
"Hal itu juga dapat tercermin pada saham yang tercatat di Korea karena investor semakin mengaitkan kedua valuasi tersebut," imbuhnya.
SK Hynix menjadi salah satu perusahaan yang paling diuntungkan dari ledakan AI. Kapitalisasi pasarnya kini mencapai sekitar US$1,2 triliun dan harga sahamnya telah melonjak empat kali lipat sepanjang tahun ini, hingga dapat mengungguli Samsung Electronics atau Micron.
Perusahaan tersebut merupakan pemasok utama chip memori berkecepatan tinggi atau high-bandwidth memory (HBM) yang digunakan dalam sistem AI milik pelanggan besar seperti Nvidia dan Google. Pekan ini, SK Hynix bahkan berhasil menyalip Samsung sebagai perusahaan paling bernilai di Korea Selatan.
Analis Senior CLSA, Sanjeev Rana, mengatakan ekspektasi terhadap pencatatan saham di AS telah membantu mendorong reli harga saham SK Hynix, ditambah tingginya permintaan memori premium untuk pusat data AI.
"Jika mereka bisa mendapatkan kelipatan valuasi yang setidaknya setara dengan Micron, misalnya, maka saham yang tercatat di Korea juga perlu mencerminkan hal tersebut. Jadi ekspektasi seperti itu memang ada," ujar Rana.
"Saya tidak akan terkejut jika reli ini terus berlanjut," imbuhnya.
Kenaikan tajam harga saham tersebut menjadi kebangkitan besar bagi SK Hynix. Dua dekade lalu, perusahaan ini hampir kolaps akibat beban utang yang berat. Lonjakan valuasi perusahaan juga membuat target penghimpunan dana meningkat signifikan dari rencana awal yang pada Maret lalu diperkirakan hanya sekitar US$14 miliar.
Dana untuk Bangun Pabrik Chip
SK Hynix mengatakan dana hasil penjualan American Depositary Receipts (ADR) akan digunakan untuk membangun pabrik chip baru di Korea Selatan serta membeli peralatan produksi semikonduktor, termasuk mesin pemindai ultraviolet ekstrem (EUV) buatan perusahaan Belanda, ASML.
Perusahaan berencana menerbitkan hingga 17,79 juta saham baru dalam bentuk ADR di Nasdaq dengan nilai mencapai 45,45 triliun won.
Dalam skema tersebut, 10 ADR akan mewakili satu saham biasa. Harga final akan ditentukan setelah proses bookbuilding selesai, meskipun kisaran awal mengacu pada harga penutupan saham Selasa yang berada di level 2,555 juta won per saham.
Manajer portofolio Allspring Global Investments yang berbasis di Singapura, Gary Tan, mengatakan aksi korporasi ini tidak akan mengubah prospek sektor memori secara signifikan.
"Pencatatan ADR ini seharusnya tidak mengubah pandangan kami terhadap SK Hynix maupun sektor memori secara material," kata Tan.
"Nilai penggalangan dana memang terlihat besar, tetapi hanya menimbulkan dilusi yang terbatas dan masih relatif kecil dibandingkan rencana belanja modal jangka menengah perusahaan."
SK Hynix menunjuk BofA Securities, Citigroup Global Markets, Goldman Sachs, dan JP Morgan Securities sebagai penjamin emisi dalam penawaran saham tersebut.
Dulu Nyaris Bangkrut
Kebangkitan SK Hynix menandai puncak dari salah satu perubahan terbesar dalam sejarah perusahaan Korea Selatan.
Pada tahun 2002, Hynix Semiconductor saat itu hampir dijual ke Micron, setelah lumpuh oleh utang yang terakumulasi selama upaya ekspansi yang agresif. Kesepakatan itu akhirnya gagal, membuat perusahaan berada di bawah kendali kreditur selama hampir satu dekade.
Sahamnya anjlok hingga serendah 135 won pada tahun 2003, membuatnya dipandang sebagai saham murahan, atau "Dongjeon-ju" dalam bahasa Korea.
Perjalanan perusahaan ini di tahun-tahun berikutnya mengikuti siklus naik-turun tradisional industri memori global. Pada 2023, penurunan tajam menghantam harga memori, mendorong SK Hynix untuk melaporkan kerugian operasional tahunan sebesar 7,73 triliun won.
Perusahaan ini mulai pulih setahun kemudian seiring dengan meningkatnya popularitas AI dan investasi besar-besaran dari perusahaan seperti Microsoft, Google, dan Meta, yang mendorongnya untuk melaporkan laba operasional tahunan sebesar 23,5 triliun won pada 2024, sebuah rekor pada saat itu.
Para analis mengaitkan peran sentral SK Hynix dalam ekosistem AI global dengan keputusannya untuk terus berinvestasi di HBM, sebuah chip memori khusus yang disusun secara vertikal untuk memberikan kinerja lebih cepat dan konsumsi daya lebih rendah/
Tidak seperti produk memori konvensional, chip HBM terintegrasi erat dengan prosesor AI, menciptakan hambatan masuk yang jauh lebih tinggi dan memberi pemasok kekuatan penetapan harga yang lebih besar.
Pada 2025, SK Hynix menguasai 61% pasar HBM global, jauh di depan Samsung yang menguasai 17% dan Micron yang menguasai 21%.
SK Hynix didirikan pada tahun 1983 sebagai unit Hyundai, tetapi kemudian dipisahkan dan dibeli oleh SK Group, konglomerat "chaebol" yang dikelola keluarga yang bisnisnya mencakup telekomunikasi hingga energi.
Ketua SK Group, Chey Tae-won, yang menghadapi penentangan kuat terhadap kesepakatan tersebut pada saat itu, menjelaskan pemikirannya dalam sebuah buku yang diterbitkan pada bulan Januari.
"Yang benar-benar ingin saya capai ketika kami mengakuisisi Hynix adalah mengubahnya dari produsen memori komoditas menjadi perusahaan semikonduktor arus utama yang produknya sangat diperlukan," kata Chey.
"Di masa lalu, tidak masalah apakah memori berasal dari Hynix, Samsung, atau Micron. Mereka adalah produk komoditas yang dapat saling menggantikan. HBM berbeda. Jika HBM SK Hynix diganti dengan produk lain, sistem AI mungkin tidak berfungsi dengan baik. Apa yang dulunya merupakan komponen periferal kini telah menjadi komponen inti," Chey menambahkan.
(fab/fab) Add
source on Google