Trump Akhirnya Menyerah Setelah China Ancam Balas Dendam Lebih Keras
Jakarta, CNBC Indonesia - Pada awal Juni 2026, Amerika Serikat (AS) memasukkan rentetan raksasa teknologi China ke dalam 'daftar hitam' Departemen Pertahanan (DoD/Pentagon) yang dikenal sebagai '1260H' atau 'CMC'. Hal ini langsung memicu reaksi keras dari pemerintahan Xi Jinping.
Daftar 1260H merupakan daftar entitas yang dinilai membantu atau terlibat dengan militer China. Meskipun daftar tersebut tidak secara resmi memberlakukan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan China, tetapi ada dampak besar yang harus ditanggung.
Berdasarkan Undang-Undang AS, Pentagon dilarang melakukan kontrak langsung dengan perusahaan-perusahaan dalam daftar tersebut, dan untuk membeli produk atau layanan mereka melalui pihak ketiga mulai tahun 2027.
Langkah-langkah tersebut dapat menimbulkan biaya material bagi perusahaan-perusahaan China dan mitra mereka. Dimasukkan ke dalam daftar juga mengirimkan pesan yang berpotensi merusak kepada pemasok Pentagon dan lembaga pemerintah AS lainnya.
"Kami pasti akan membalas dengan tegas dan keras," kata Kementerian Perdagangan China dalam sebuah pernyataan yang merespons putusan AS tersebut, dikutip dari Reuters, beberapa saat lalu.
Beijing mendesak pemerintahan Donald Trump untuk menghentikan praktik-praktik yang keliru. AS diminta kembali ke jalan yang benar untuk membangun hubungan strategis dan stabil antara kedua negara.
Beberapa perusahaan China lain yang masuk daftar adalah CXMT dan YMTC yang merupakan produsen chip kawakan, WuXi AppTec yang bergerak di sektor bioteknologi, RoboSense Technology yang membuat robot berbasis AI, serta Unitree yang merupakan perusahaan robot dan humanoid kawakan asal China.
Amerika Mendadak Menyerah dan Melunak
Tak lama sejak ancaman dari Kementerian Perdagangan China, pemerintahan Trump akhirnya bersikap lunak. Bukan terkait daftar Pentagon, tetapi 'daftar hitam' lain yang ditetapkan Kementerian Perdagangan AS.
Dikutip dari Reuters, Rabu (17/6/2026), AS menangguhkan penambahan lebih dari 100 perusahaan China ke daftar hitam yang yang disebut 'Entity List' tersebut. Dua di antaranya adalah startup AI DeepSeek dan produsen chip CXMT, menurut dua sumber yang familiar dengan hal ini.
Disebutkan bahwa pemerintaha Trump menghindari ketegangan yang meningkat dengan Beijing, sehingga menangguhkan penambahan entitas 'daftar hitam' tersebut.
DeepSeek, model AI berbiaya rendahnya mengguncang dunia teknologi pada Januari 2025, telah mendukung operasi militer dan intelijen China, kata seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS kepada Reuters tahun lalu.
Ia menambahkan bahwa startup tersebut mencoba menggunakan perusahaan cangkang di Asia Tenggara untuk mengakses chip canggih AS secara ilegal.
Tahun ini, Anthropic mengatakan telah mengidentifikasi kampanye oleh DeepSeek dan dua laboratorium AI China lainnya yang secara ilegal mengekstrak kemampuan dari platform AI Claude miliknya untuk meningkatkan model mereka sendiri.
OpenAI memperingatkan para pembuat undang-undang bahwa DeepSeek juga menargetkan modelnya.
CXMT, pembuat chip memori terkemuka China, ditetapkan sebagai perusahaan militer China oleh Pentagon di bawah pemerintahan Biden. Departemen Perdagangan mempertimbangkan untuk memasukkannya ke dalam Entry List lebih dari setahun yang lalu, Reuters dan lainnya melaporkan.
Perusahaan-perusahaan AS tidak dapat mengirimkan barang, software, dan teknologi ke perusahaan-perusahaan yang ada dalam daftar tersebut tanpa lisensi, yang kemungkinan besar akan ditolak.
DeepSeek dan CXMT tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar di luar jam kerja normal. Biro Industri dan Keamanan Departemen Perdagangan, yang mengawasi daftar tersebut, tidak secara langsung menanggapi pertanyaan tentang mengapa pembaruan Entity List belum dipublikasikan sejak tahun lalu, atau memberikan komentar tentang DeepSeek dan CXMT.
Biro tersebut menggunakan "banyak alat kebijakan dan penegakan hukum, termasuk Entry List, untuk memastikan kami memerangi pelaku kejahatan," kata BIS dalam sebuah pernyataan.
(fab/fab) Add
source on Google