Situasi Memanas! China Balas Dendam, Tak Ada Ampun Buat Amerika

Redaksi,  CNBC Indonesia
22 June 2026 15:00
Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)
Foto: Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - China tak tinggal diam setelah pemerintah Amerika Serikat (AS) memasukkan beberapa raksasa teknologinya ke dalam 'daftar hitam' Departemen Pertahanan AS alias Pentagon. Di antaranya adalah Alibaba, Baidu, BYD, dan Nio.

Tak menunggu lama, China akhirnya balas dendam dan melancarkan kontrol ekspor terhadap 10 perusahaan AS yang terlibat di sektor pertahanan dan penambangan mineral tanah jarang.

Konflik yang kian meruncing antara AS-China ini muncul sekitar sebulan setelah Presiden AS Donald Trump mengunjungi Beijing untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan kala itu untuk melanjutkan 'gencatan senjata' perang dagang antara kedua negara kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Meskipun AS-China sepakat untuk meneruskan penurunan tarif satu sama lain, tetapi gesekan keduanya masih terus berlanjut, utamanya di sektor teknologi dan pertahanan.

Washington merilis daftar hitam baru pada awal bulan ini. Tak kurang dari 80 perusahaan China dan anak-anak usahanya dituduh membantu militer China.

"Kontrol ekspor baru China merupakan respons dari aksi mengerikan pemerintah China yang menambahkan 'daftar bisnis pembantu militer China'," kata Kementerian Perdagangan China dalam pernyataannya, dikutip dari Channel News Asia, Senin (22/6/2026).

Lembaga tersebut juga mengatakan kontrol ekspor ke 10 perusahaan AS itu merupakan bagian dari upaya menjaga keamanan nasional.

Di antara 10 entitas AS yang masuk daftar hitam China, salah satunya ada Aveox yang memegang kontrak pertahanan luar angkasa dari militer AS. Ada juga Oshkosh Defense yang memproduksi kendaraan-kendaraan militer.

Daftar itu juga mencakup para produsen mineral tanah jarang asal AS, yakni MP Materials dan USA Rare Earth.

Kementerian Perdagangan China mengatakan eksportir dilarang menjual barang-barang dwiguna kepada entitas yang terdaftar. Beijing menambahkan bahwa "segala aktivitas ekspor terkait yang sedang berlangsung saat ini harus segera dihentikan".

Larangan tersebut juga berlaku untuk "organisasi atau individu di negara atau wilayah mana pun ... yang mentransfer atau menyediakan barang-barang dwiguna yang berasal dari China kepada entitas tersebut", demikian pernyataan tersebut.

Kementerian Keuangan China secara bersamaan mengumumkan larangan bagi lembaga-lembaga yang terlibat dalam pengadaan publik untuk membeli produk-produk buatan 46 perusahaan AS, termasuk Lockheed Martin, Raytheon, dan divisi pertahanan Boeing.

Daftar tersebut juga mencantumkan divisi-divisi General Dynamics dan Anduril Industries, yang merupakan kontraktor militer utama AS, dan beberapa perusahaan kedirgantaraan.

Perusahaan-perusahaan dengan investasi AS yang beroperasi di China dikecualikan, menurut pernyataan dari Kementerian Keuangan, yang mengatakan bahwa langkah-langkah tersebut akan berlaku mulai Senin (22/6) ini.

Kementerian perdagangan China telah memberikan sanksi kepada sejumlah perusahaan tersebut dan anak perusahaannya, baik pada tahun 2024 maupun 2025 atas penjualan senjata AS ke Taiwan.

Taipei sangat bergantung pada dukungan Washington untuk melawan tekanan yang makin meningkat dari Beijing, yang mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak mengesampingkan kemungkinan merebutnya dengan kekerasan.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bulan ini bahwa paket senjata senilai US$14 miliar yang diusulkan untuk Taiwan "sedang ditinjau".

Sejak pertemuannya dengan Xi Jinping pada Mei lalu, Trump telah berupaya untuk secara publik menampilkan citra hubungan bilateral yang kuat.

Trump bahkan berterima kasih kepada pemimpin China pada konferensi G7 di Prancis pekan lalu karena tetap "netral" dalam konflik Amerika Serikat dengan Iran, seiring kedua negara mengadopsi gencatan senjata awal.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Akhirnya Menyerah Setelah China Ancam Balas Dendam Lebih Keras


Most Popular
Features