MARKET DATA

Timur Tengah Jadi Sorotan Investor, Bursa Asia Bergerak Bervariasi

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
22 June 2026 08:12
Tampilan layar yang menampilkan harga saham rata-rata di Bank of Taiwan Securities di Taipei, Taiwan, 7 April 2025. REUTERS/Ann Wang
Foto: REUTERS/Ann Wang

Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa Asa bergerak bervariasi mengawali pekan ini di tengah meningkatnya kewaspadaan investor terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Mayoritas investor masih mencermati kenaikan harga minyak dunia dan menunggu data inflasi Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Di Jepang, indeks Nikkei 225 menjadi salah satu indeks dengan performa terbaik di kawasan. Hingga pukul 09.30 waktu Tokyo, Nikkei naik 631,74 poin atau 0,89% ke level 71.881,80.

Sementara itu, pasar saham China belum menunjukkan perubahan signifikan. Indeks Shanghai Composite tercatat berada di level 4.090,481 dan masih tidak berubah dibandingkan penutupan sebelumnya.

Kemudian, indeks Shenzhen Component juga stagnan di posisi 16.030,702.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng juga belum mencatatkan pergerakan dan bertahan di level 23.924,81.

Berbeda dengan Jepang, pasar saham Australia bergerak di zona merah. Indeks S&P/ASX 200 turun 13,40 poin atau 0,15% ke level 8.815,30.

Tekanan lebih besar terlihat di Korea Selatan. Indeks KOSPI melemah 71,34 poin atau 0,79% menjadi 8.981,08.

Di Asia Tenggara, indeks Straits Times Index (STI) Singapura turun 20,14 poin atau 0,39% ke posisi 5.192,70.

Mengutip CNBC Internasional, perdagangan pasar keuangan global memasuki pekan ini dengan sentimen yang cenderung hati-hati.

Pasar energi menunjukkan arah berbeda dengan harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik hampir 3% ke kisaran US$78 per barel. Minyak Brent sebagai acuan global juga menguat lebih dari 1% ke sekitar US$81 per barel.

Pergerakan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump pada hari Minggu mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran jika para pemimpin negara tersebut tidak segera menghentikan para PROXY mereka yang digaji tinggi di Lebanon agar tidak menimbulkan masalah.

Pernyataannya itu muncul saat Wakil Presiden JD Vance bertemu dengan para pejabat Iran untuk putaran pertama negosiasi di Swiss, setelah pembicaraan sebelumnya dibatalkan.

Ujian utama bagi pasar pekan ini adalah rilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bulan Mei pada hari Kamis, yang merupakan indikator inflasi pilihan The Fed. Bahkan jika mengesampingkan harga pangan dan energi yang fluktuatif, PCE inti diperkirakan akan meningkat dibandingkan bulan April, menurut para ekonom yang disurvei oleh FactSet.

Menyusul pertemuan The Fed pekan lalu yang bernada hawkish, ekspektasi kenaikan suku bunga dimajukan paling ke cepat bulan Oktober. Para investor kini sangat fokus pada setiap data inflasi yang dapat menjadi sinyal bahwa bank sentral AS mungkin akan segera mulai menaikkan suku bunga.

Meskipun Tom Lee dari Fundstrat Global Advisors meyakini bahwa sejumlah faktor pemicu berpotensi memengaruhi pasar di masa mendatang, seperti pembentukan gugus tugas di Federal Reserve dan dampak pada rantai pasokan akibat penutupan Selat Hormuz, kondisi pasar tetap positif.

"Kami masih meyakini bahwa pada akhir tahun ini akan terjadi perubahan mendadak dalam kondisi pasar, yang terasa sangat mirip dengan pasar bearish, tetapi kami tidak ingin terburu-buru memprediksi puncak pasar," kata kepala riset perusahaan tersebut dalam program Closing Bell" di CNBC pada hari Kamis.

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking! IHSG Dibuka Terbang 3% Usai Kesepakatan Damai AS-Iran


Most Popular
Features