China Bangun Proyek Raksasa Malah India yang Takut Menderita
Jakarta, CNBC Indonesia - China tengah membangun proyek bendungan raksasa Motuo dengan anggaran nyaris Rp 3.000 triliun. Namun proyek ini ditemukan sangat berisiko bagi beberapa wilayah, seperti Tibet dan India.
Proyek bendungan raksasa ini sebagai upaya China untuk memenuhi kebutuhan energi yang tak pernah ada habisnya. Pemerintah mengejar sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air yang berada di wilayah Tibet.
China mengerjakan proyek unggulan bendungan itu di Sungai Yarlung Tsangpo. Biaya pengerjaan hingga US$ 168 miliar (lebih dari Rp 2.980 triliun) telah memulai konstruksi sejak Juli 2025 dan akan selesai kurang dari satu dekade.
Bendungan ini akan menghasilkan output daya tahunan sebesar 300 terawatt. Jumlah yang tiga kali lipat dari Bendungan Tiga Ngarai di Sungai Yangtze, yang menjadi bendungan terbesar dunia saat ini.
Di sisi lain, proyek ini berisiko besar untuk masyarakat Tibet dan ratusan juta orang yang berada di negara hilir termasuk India dan Bangladesh. Salah satunya diungkap oleh kepala Stockholm Center for South Asian and Indo-Pacific Affairs di Institute for Security and Development Policy, Jagannath Panda.
"Mengendalikan air atau sungai itu sendiri menjadi berbahaya bagi seluruh wilayah Himalaya, khususnya negara-negara seperti India, Bangladesh, sampai batas tertentu untuk Nepal," jelasnya, dikutip dari Live Science, Rabu (17/6/2026).
Sejumlah peneliti mengingatkan soal risiko seismik, karena Tibet adalah salah satu wilayah paling aktif di dunia. Mereka menyebut wilayah Himalaya tidak cocok untuk pembangunan bendungan, karena risiko seismisitas yang tinggi dan dampaknya.
Selain itu juga bendungan rentan pada tanah longsor karena gempa bumi. Aktivitas seismik dapat dipicu oleh proyek berskala besar dengan kegiatan penggalian tanah, pembuatan terowongan, dan pengalihan air, serta pembuatan waduk telah dikaitkan dengan gempa bumi di China.
Perubahan iklim jadi masalah lainnya, sebab fenomena itu bisa membuat bendungan menjadi usang lebih cepat dari yang diperkirakan. Bendungan biasanya berfungsi 70-100 tahun, dan permukaan air Yarlung Tsangpo diperkirakan mencapai puncaknya pada 2060.
Saat permukaan air mulai turun, seluruh bendungan menjadi tidak berguna saat periode kering. Ini akibat permukaan air akan terlalu rendah untuk menghasilkan tenaga air.
(dem/dem) Add
source on Google