QuitGPT Menggema Ajak Warga Buang ChatGPT, Disebut Antek Donald Trump

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
15 June 2026 07:50
Presiden AS Donald Trump menyampaikan sambutan tentang infrastruktur AI, di samping salah satu pendiri Oracle Larry Ellison, CEO SoftBank Masayoshi Son, dan CEO OpenAI Sam Altman di ruang Roosevelt di Gedung Putih di Washington, AS, 21 Januari 2025.
Foto: Presiden AS Donald Trump menyampaikan sambutan tentang infrastruktur AI, di samping salah satu pendiri Oracle Larry Ellison, CEO SoftBank Masayoshi Son, dan CEO OpenAI Sam Altman di ruang Roosevelt di Gedung Putih di Washington, AS, 21 Januari 2025.(REUTERS/Carlos Barria)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak diluncurkan 2022, ChatGPT dikenal sebagai chatbot yang sangat populer dan banyak yang menggunakannya. Namun hampir empat tahun berselang, chatbot milik OpenAI memasuki era baru.

Jutaan orang dikabarkan memutuskan untuk memboikot ChatGPT dan terangkum dalam situs bernama QuitGPT.org. Tujuannya satu adalah menghentikan orang-orang untuk menggunakan ChatGPT.

"Kami tengah mengorganisir warga Amerika dan orang-orang di seluruh dunia berhenti menggunakan ChatGPT," tulis QuitGPT, dikutip Jumat (12/6/2026).

Dalam laman tersebut, gerakan QuitGPT menyinggung kesepakatan antara CEO OpenAI Sam Altman dengan pemerintahan AS. Disebutkan bahwa kesepakatan itu menempatkan penggunanya berada dalam risiko AI yang menguntungkan perusahaan.

"OpenAI setuju membiarkan Pentagon menggunakan teknologi untuk tujuan hukum apapun, termasuk robot pembunuh dan pengawasan massal," tulis gerakan itu.

Padahal raksasa AI lain, Anthropic bisa menolak memberikan akses tak terbatas pada Pentagon. Perusahaan itu melarang penggunaan AI untuk melakukan pengawasan massal pada warga AS atau memproduksi senjata AI.

Selain itu, mereka juga menyoroti hubungan para bos OpenAI dengan pemerintahan Donald Trump. Altman dan presiden OpenAI Greg Brockman beserta istrinya diketahui menyumbang ke yayasan MAGA Inc untuk dukungan pada Trump tahun 2025.

Brockman menyumbangkan US$25 juta, sementara Altman memberikan US$1 juta untuk biaya pelantikan Trump. Gerakan QuitGPT menuliskan keduanya memberikan uang 26 kali lebih banyak dari perusahaan AI besar lainnya.

"Mereka bermesraan dengan Trump, saat ICE membunuh warga Amerika dan Departemen Kehakiman mencoba mengambil alih pemilu," tulis gerakan itu merujuk pada alat penyaringan yang didukung GPT-4.

ChatGPT juga diklaim memicu krisis kesehatan mental dan membuat ketergantungan untuk menggantikan hubungan dengan manusia. Banyak karyawan OpenAI disebut telah keluar dari perusahaan karena kebohongan, penipuan dan kecerobohan pemimpinnya.

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pencipta Senjata Canggih AS Sebut Donald Trump Diktator


Most Popular
Features