Fenomena Baru Muncul di Kampus, Banyak Mahasiswa Tak Mampu Membaca

Redaksi,  CNBC Indonesia
11 June 2026 20:30
Open book, stack of hardback books on wooden table. Education concept. Copy space.
Foto: Freepik

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah peringatan serius datang dari dunia kuliah, kemampuan membaca dan menulis mahasiswa kini mengalami penurunan drastis hingga mencapai titik kritis. Banyak pengajar universitas kini mengeluhkan bahwa mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi sebenarnya tidak mampu membaca dan memahami teks yang panjang, sebuah keterampilan dasar yang seharusnya sudah dikuasai sebelum mereka mulai kuliah.

Tyler Jagt, pengajar sastra dan penulisan di tingkat universitas, menceritakan pengalamannya yang mengejutkan dalam sebuah esai untuk The Chronicle of Higher Education.

Ia bercerita tentang tugas membaca artikel setebal 20 halaman yang diberikannya ke mahasiswa. Artikel yang sama dengan mudah ia baca sampai habis ketika masih mahasiswa 10 tahun lalu. Kini, tidak ada satu pun mahasiswa yang mampu membaca artikel tersebut sampai selesai.

Salah satu mahasiswa mengaku berhenti di tengah jalan karena terus menerus lupa alur dan inti pembahasan tulisan tersebut. Masalah ini bukan sekadar keluhan pribadi seorang pengajar.

Data resmi mengonfirmasi fenomena ini. Hasil penilaian secara nasional pada 2024 menunjukkan skor membaca siswa kelas 12 di Amerika Serikat berada di level terendah sejak penilaian ini dimulai pada 1992.

Hampir sepertiga siswa kelas 12 mendapatkan nilai di bawah standar "dasar." Artinya sebagian besar dari mereka tidak mampu menarik kesimpulan umum dari konsep yang tertulis secara jelas dalam sebuah teks.

Di level yang lebih rendah, masalah yang sama juga ditemukan. Laporan Yayasan Annie E. Casey menemukan bahwa 70 persen siswa kelas 4 belum mencapai tingkat kemampuan membaca yang memadai.

"Apa yang saya saksikan di kelas bukan lagi sekadar dugaan semata," tulis Jagt. "Ada penurunan yang terukur dan menyeluruh dalam kemampuan membaca serta menulis secara berkelanjutan di seluruh generasi ini."

Dua faktor utama dianggap menjadi penyebab utama krisis ini adalah penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan smartphone yang makin meluas.

Banyak siswa kini menganggap AI sebagai alat bantu belajar yang sah. Mereka menggunakannya untuk merangkum artikel panjang yang sulit dipahami, bahkan menulis esai dan menyelesaikan soal matematika.

Beberapa universitas bahkan menjalin kerja sama dengan perusahaan teknologi untuk memberikan akses layanan AI kepada mahasiswa, yang secara tidak langsung melegitimasi dan mempercepat penggunaan AI ini di ruang kelas. Akibatnya, para dosen harus menanggung sendiri dampaknya saat mereka mengajar.

Dari sisi penelitian, manfaat AI sebagai alat pendidikan masih dipertanyakan. Salah satu studi besar yang pernah mengklaim bahwa ChatGPT meningkatkan kinerja belajar justru ditarik kembali bulan lalu. Sebagian besar penelitian justru menunjukkan dampak buruknya yaitu penggunaan AI dikaitkan dengan melemahnya kemampuan berpikir kritis dan gangguan daya ingat.

Sebuah penelitian dari MIT menemukan bahwa mahasiswa yang menggunakan ChatGPT saat mengerjakan tugas seperti menulis esai menunjukkan aktivitas otak yang lebih rendah di bagian yang berhubungan dengan kreativitas, dibandingkan dengan mereka yang hanya menggunakan Google atau mencari informasi secara mandiri.

Fakta yang lebih mengejutkan adalah 83 persen pengguna AI tidak mampu mengutip satu kalimat pun dari esai yang baru mereka tulis. Lebih parah lagi, aktivitas otak mereka tidak kembali ke kondisi normal meskipun diminta menulis tanpa bantuan AI sesudahnya.

Sementara itu, HP juga memberikan dampak besar. Sebuah penelitian tahun 2017 menunjukkan penurunan kapasitas kognitif dan fungsi otak orang yang berdekatan dengan HP, meskipun HP itu mati. 

"Otak manusia bekerja dengan prinsip 'pakai atau hilang'," kata Jagt.

Untuk membantu mahasiswanya yang tak mampu mendalami artikel 20 halaman, Jagt terpaksa membaginya ke beberapa halaman ke beberapa orang dan menjadikannya tugas kelompok. 

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Fenomena Gen Z Masuk Kuliah Tak Bisa Baca, Dosen Sampai Menyerah


Most Popular
Features