Dosen Nyerah, Banyak Gen Z Masuk Kuliah Tak Becus Membaca

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
23 January 2026 19:00
Ilustrasi membaca
Foto: Alexis Brown via Unsplash

Jakarta, CNBC Indonesia - Perguruan tinggi di Amerika Serikat (AS) tengah menghadapi fenomena tak biasa, di mana mahasiswa generasi Z yang masuk kuliah menunjukkan kemampuan membaca yang sangat rendah.

Kondisi ini memaksa para pengajar menurunkan standar akademik demi menjaga proses belajar tetap berjalan. Laporan Fortune mengungkapkan fenomena ini setelah mewawancarai sejumlah profesor di kampus-kampus ternama.

Para pengajar mengaku kesulitan memberikan tugas membaca kepada mahasiswa karena kemampuan memahami teks dinilai jauh menurun.

Profesor Sastra di Pepperdine University, Jessica Hooten Wilson, misalnya, ia menyatakan mahasiswa Gen Z bukan hanya kesulitan berpikir kritis, tapi bahkan tidak mampu 'membaca' sebuah kalimat.

Wilson terpaksa menghapus tugas membaca di luar kelas dan menggantinya dengan pembacaan bersama di dalam kelas baris demi baris. Namun metode itu tetap tidak efektif.

"Saya merasa harus membaca keras-keras karena tidak ada yang membaca malam sebelumnya," kata Wilson.

"Bahkan ketika dibacakan di kelas, masih banyak hal yang tidak mampu mereka proses dari kata-kata yang ada di halaman," imbuhnya.

Hal serupa juga terjadi di University of Notre Dame. Profesor Teologi Timothy O'Malley menyebut menurunnya ekspektasi akademik merupakan perubahan besar. Ia dulu memberi tugas membaca 25-40 halaman per kelas, tetapi kini jumlah itu dianggap tidak mungkin dilakukan oleh mahasiswa.

"Hari ini, jika Anda memberikan bacaan sebanyak itu, mereka sering kali tidak tahu harus bagaimana," ujarnya, seraya menambahkan bahwa sebagian besar mahasiswa Gen Z bertahan dengan ringkasan dari AI.

"Mereka dibentuk dengan pola membaca yang hanya scanning," ia berujar.

Sejumlah akademisi menilai penurunan kemampuan literasi Gen Z tidak bisa dilepaskan dari sejumlah faktor struktural. Sistem pendidikan dinilai semakin rapuh, pembelajaran mereka terputus pandemi COVID-19, dan kebiasaan konsumsi informasi bergeser dari teks ke video serta format audio.

Penurunan kemampuan literasi ini juga tercermin pada tingkat nasional. Dalam 20 tahun terakhir, jumlah orang dewasa di AS yang membaca untuk hiburan turun 40 persen. Survei Program for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC) juga menemukan 59 juta warga membaca pada level kompetensi terendah.

Dengan kata lain, generasi muda di AS hampir tidak mampu berhadapan dengan teks tertulis. Tanpa perubahan struktural besar dalam sistem pendidikan, Gen Z kemungkinan tidak akan menjadi generasi terakhir dengan tingkat literasi yang lebih rendah dibanding generasi sebelumnya.

(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Wamen BUMN Bilang Pekerjaan Konsultan Terancam Musnah


Most Popular
Features