Netflix dan Disney Kalah, Pemain Lama Jadi Raja Baru di Televisi

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 08/06/2026 08:10 WIB
Foto: Ilustrasi menonton tv. (Dok. Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peta persaingan industri hiburan dan penyiaran global makin jelas perubahannya. Data terbaru dari lembaga survei pasar terkemuka, Nielsen, dalam laporan Media Distributor Gauge edisi Maret 2026, kembali menegaskan identitas penguasa baru layar kaca. Sang juara bukan raksasa layanan berlangganan seperti Netflix maupun Disney+, melainkan platform streaming lama YouTube.

Data terbaru periode Maret 2026 menunjukkan YouTube menguasai 13,5 persen dari seluruh waktu yang dihabiskan masyarakat Amerika Serikat untuk menonton televisi. Angka ini merupakan rekor tertinggi yang pernah dicatat, naik dari 12,5 persen pada Januari 2026 dan jauh melampaui angka 9,6 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan konsisten ini membuktikan bahwa keberadaan YouTube di perangkat televisi bukan lagi sekadar alternatif, melainkan telah menjadi pilihan utama penonton di ruang keluarga.

Keunggulan ini makin menarik jika dilihat dari sejarah berdirinya tiap platform. YouTube resmi beroperasi pada 2005, jauh lebih awal dibanding layanan streaming modern lainnya. Sebagai perbandingan, Netflix mulai meluncurkan layanan khusus streaming pada 2010. Sementara itu, pesaing lain seperti Disney+ baru hadir pada 2019, Paramount+ pada 2021, dan layanan serupa lainnya baru berkembang pesat dalam 5-7 tahun terakhir saja.


Artinya, YouTube sudah berkecimpung di dunia streaming hampir 20 tahun, jauh lebih lama dari pesaingnya.

Posisi kedua saat ini ditempati oleh Disney dengan pangsa 10,5 persen, sedikit menurun dibandingkan angka 11,9 persen pada awal tahun. Kenaikan yang sempat dicatat Disney pada Januari lalu didorong liputan acara olahraga besar, namun belum cukup untuk menyalip keunggulan YouTube yang makin melebar.

Sementara itu, Netflix berada di urutan keempat dengan 8,2 persen, di bawah stasiun televisi NBC yang mencatatkan 8,4 persen. Angka ini menegaskan penurunan dominasi layanan berlangganan, di mana gabungan pangsa Netflix dan Disney masih kalah jauh dibandingkan satu platform YouTube saja.

Pergeseran kebiasaan ini makin diperkuat data internal YouTube. Sepanjang kuartal pertama 2026, perangkat televisi resmi menjadi sarana utama akses pengguna, dengan lebih dari 45 persen total tontonan kini dilakukan lewat layar besar, bukan lagi ponsel atau komputer. Artinya, penonton tidak hanya mencari konten pendek, tetapi juga menganggap YouTube sebagai sumber tontonan lengkap yang menggantikan peran saluran televisi konvensional maupun layanan berbayar.

Menurut laporan industri, dominasi YouTube diprediksi akan makin meningkat pesat. Langkah strategis terbesar adalah kerja sama bersejarah dengan NFL, badan pengelola kompetisi sepak bola Amerika Serikat. Kesepakatan ini memberikan hak eksklusif kepada YouTube untuk menayangkan secara langsung pertandingan pembuka musim kompetisi berikutnya. Ini adalah pertama kalinya YouTube menjadi mitra resmi penyiaran ajang olahraga besar.

Langkah ini dianggap jitu merebut penonton yang biasanya setia pada saluran khusus olahraga, sekaligus memperkuat posisi di depan para pesaing.

Di sisi lain, raksasa seperti Netflix dan Disney kini menghadapi tantangan yang makin besar. Meskipun keduanya terus berinvestasi konten, kenaikan harga langganan dan keterbatasan variasi program membuat penonton perlahan beralih ke model layanan yang makin dinamis, beragam, dan sebagian besar gratis seperti YouTube.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Spam & Scam Mengancam Era AI, Gimana Jurus Bangun Trust Digital?