Pesan Tajam Paus Leo, Simak Isinya yang Menohok Orang Terkaya Dunia

Redaksi,  CNBC Indonesia
29 May 2026 18:00
Paus Leo XIV merayakan Misa Kudus Natal di Basilika Santo Petrus di Vatikan, 25 Desember 2025. (REUTERS/Yara Nardi)
Foto: Paus Leo XIV merayakan Misa Kudus Natal di Basilika Santo Petrus di Vatikan, 25 Desember 2025. (REUTERS/Yara Nardi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan kecerdasan buatan atau AI memicu beragam tanggapan dari berbagai kalangan, mulai dari pakar teknologi, pengambil kebijakan, hingga tokoh agama. Salah satu tanggapan yang paling keras dan mencuri perhatian dunia datang dari Paus Leo XIV.

Paus Leo baru-baru ini menerbitkan Encyclical yaitu dokumen berupa ajaran dari Pemimpin Gereja Katolik ke semua Gereja Katolik di seluruh dunia. Salah satu topik bahasan dalam surat berjudul Magnifica Humanitas tersebut adalah AI, termasuk dampaknya ke umat manusia.

Dalam pernyataannya, Paus Leo menegaskan bahwa kemajuan teknologi sebesar apa pun tidak boleh mengorbankan nilai-nilai dasar kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa AI pada dasarnya adalah alat yang diciptakan oleh manusia, sehingga tanggung jawab atas cara penggunaannya, dampak yang ditimbulkannya, dan tujuan pengembangannya tetap berada di tangan manusia.

"AI kini menuntut untuk dilucuti, dibebaskan dari logika yang mengubahnya menjadi alat dominasi, eksklusi, dan kematian. Seperti energi nuklir, ia harus melayani semua orang dan untuk kepentingan bersama," tegas Paus Leo dalam pernyataan Encyclical, yang menjadi salah satu kutipan paling berani dan jelas yang pernah disampaikan oleh pemimpin Gereja Katolik tentang teknologi ini.

Menurutnya, risiko terbesar bukanlah pada teknologi itu sendiri, melainkan pada ketidakmampuan atau ketidakmauan manusia untuk mengaturnya dengan prinsip etika dan keadilan. Ia juga memperingatkan bahwa pengembangan yang tidak terkendali bisa memunculkan bentuk-bentuk ketidakadilan baru, bahkan apa yang ia sebut sebagai "bentuk-bentuk perbudakan baru" jika kekuasaan atas teknologi ini hanya berada di tangan segelintir pihak saja.

"Teknologi tidak pernah netral, karena teknologi terbentuk dari karakter mereka yang mencetuskan, mendanai, meregulasi, dan menggunakannya. Oleh karena itu, pilihan yang ada bukan antara setuju atau tidak terhadap suatu teknologi, melainkan antara membangun Babel atau Yarussalem, antara kekuatan yang mengklaim bisa mendominasi surga dengan orang-orang yang bekerja sama di hadapan Tuhan untuk membangun tembok persaudaraan," tulis Paus Leo dalam ensiklikal.

Salah satu poin utama yang disampaikan Paus adalah kekhawatiran atas ketimpangan yang bisa diperparah oleh AI. Ia menyoroti akses dan kendali AI hanya oleh negara atau perusahaan tertentu. Kondisi seperti itu menciptakan jurang pemisah yang makin lebar.

Teknologi tidak pernah netral, karena teknologi terbentuk dari karakter mereka yang mencetuskan, mendanai, meregulasi, dan menggunakannyaPaus Leo XIV

Pengembangan teknologi AI kini sedang menjadi "medan perang" segelintir perusahaan di Amerika Serikat yang dikuasai oleh miliarder seperti Elon Musk, Mark Zuckerberg, hingga Jeff Bezos. Musk memiliki perusahaan AI bernama xAI, Zuckerberg lewat Meta telah menggelontorkan ratusan miliar dolar AS untuk AI, sedangkan adopsi AI oleh Amazon milik Bezos telah menyebabkan ribuan orang kehilangan pekerjaan. Perusahaan raksasa lainnya yang bertarung menguasai AI adalah Microsoft, Google, OpenAI, dan Anthropic.

Mereka yang memiliki akses atas AI bisa maju meninggalkan mereka yang hanya menanggung dampak buruknya baik kehilangan pekerjaan, kehilangan kendali atas data pribadi, hingga kehilangan nilai kemanusiaan.

"Kecerdasan buatan dan teknologi digital dapat merusak kemanusiaan, mengganggu hubungan antar manusia dan mendistorsi realitas, kecuali jika dipandu oleh tanggung jawab dan berakar pada pendidikan serta nilai-nilai luhur," tambahnya, menegaskan bahwa kendali manusia harus selalu berada di atas sistem buatan yang kita ciptakan.

Pernyataan ini kemudian menjadi sorotan dunia karena menjadi salah satu pernyataan paling terperinci dan tegas dari pemimpin agama dunia terkait masa depan teknologi. Bagi banyak pihak, pesan utamanya sangat jelas yaitu jangan sampai manusia dikendalikan oleh alat ciptaannya sendiri. Teknologi harus tetap menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan, persaudaraan, dan keadilan, bukan sebaliknya.

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Paus Leo XIV Minta Satu Dunia Berubah, Ungkap Fakta Mencekam


Most Popular
Features