Konglomerat Menyerah, Giliran Perang Sesama Buruh Meletus

Redaksi, CNBC Indonesia
Selasa, 26/05/2026 21:50 WIB
Foto: Ribuan serikat pekerja di Samsung Electronics menghadiri aksi unjuk rasa di Korea Selatan pada Kamis (23/4/2026). Aksi ini digelar menjelang ancaman mogok kerja bulan depan yang berpotensi mengganggu pasokan chip, di tengah lonjakan permintaan akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI). (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman mogok kerja massal dari serikat pekerja Samsung, lebih tepatnya yang mewakili divisi chip, akhirnya berbuah manis. Setelah negosiasi alot, pihak manajemen akhirnya bersedia mengalokasikan 10,5% dari laba operasional tahunan perusahaan untuk dibagikan sebagai bonus.

Alhasil, aksi mogok massal selama 18-hari yang tadinya dijadwalkan mulai 21 Mei 2026, akhirnya ditunda. Saat ini, pemungutan suara dilakukan untuk para karyawan yang memenuhi syarat, terkait skema gaji dan bonus.


Kendati demikian, serikat pekerja Samsung lainnya yang mewakili divisi elektronik konsumen, meminta pengadilan Korea Selatan membatalkan pemungutan suara atas kesepakatan pembayaran tersebut.

Mereka menilai kesepakatan itu hanya memberikan manfaat bagi para pekerja di divisi chip, dikutip dari Reuters, Selasa (26/5/2026).

Sebagai informasi, ancaman mogok massal dipicu pertumbuhan bisnis chip Samsung yang melonjak tajam akibat tingginya permintaan. Pasalnya, dunia saat ini mengalami krisis chip memori global, akibat 'ledakan' AI.

Kapitalisasi pasar Samsung tembus US$1 triliun akibat pertumbuhan bisnis chip secara masif. Namun, karyawan divisi chip menilai pertumbuhan itu tidak dibarengi peningkatan kesejahteraan bagi pekerja.

Alhasil, para pekerja di divisi chip mengancam mogok massal yang akan diikuti 48.000 pekerja. Pemerintah Korea Selatan sampai harus turun tangan dan memediasi negosiasi antara manajemen dan serikat pekerja, sebab mogok massal di situasi sekarang bisa membahayakan ekonomi nasional.

Proses pemungutan suara oleh para serikat pekerja dimulai sejak Jumat (22/5) hingga Rabu (27/5) besok. Diharapkan pemungutan suara ini akan mengesahkan hasil kesepakatan antara manajemen dan serikat pekerja di divisi chip.

Namun, serikat pekerja lain yang tergabung dalam Samsung Electronics Co Union (SECU), yang beranggota 13.000 orang, bahwa mereka akan mengambil langkah hukum terkait pemungutan suara ini.

Pasalnya, mereka disebut tak berhak untuk ikut dalam pemungutan suara tersebut. SECU umumnya berasal dari pekerja di divisi smartphone, TV, dan perangkat rumah tangga.

Ketidaksepakatan dalam proses negosiasi menyebabkan SECU meninggalkan tim negosiasi sebelum kesepakatan tercapai dengan pihak manajemen.

Adapun negosiasi antara serikat pekerja dan manajemen dipimpin oleh Samsung Electronics Labor Union (SELU). Disebutkan bahwa 90% dari anggota SELU sebanyak 57.290, berhak ikut dalam pemungutan suara.

Persetujuan membutuhkan mayoritas anggota serikat pekerja yang memenuhi syarat untuk berpartisipasi dan mayoritas anggota tersebut untuk memberikan suara mendukung. Jika tidak, negosiasi harus dimulai kembali dari awal.

Beberapa karyawan elektronik konsumen di serikat pekerja terpisah, National Samsung Electronics Union (NSEU), juga mengatakan bahwa mereka kecewa dengan ketentuan kesepakatan tersebut. NSEU memberikan suara menentang kesepakatan tersebut, kata pejabat NSEU Lee Ho-seok kepada Reuters.

Ia mengatakan beberapa pekerja pabrik di divisi chip Samsung juga frustrasi dengan kesepakatan tersebut, dan menyatakan harapan bahwa kesepakatan itu akan ditolak, meskipun hal itu kemungkinan sulit terjadi.

NSEU memiliki sekitar 20.000 anggota, menurut situs webnya. Mayoritas adalah pekerja chip. Samsung menyumbang sekitar seperempat dari ekspor negara tersebut, dan kesepakatan itu telah memicu banyak kelegaan di seluruh Korea Selatan.

Namun, perselisihan tersebut telah mengungkap perpecahan yang mendalam tentang bagaimana keuntungan dari booming AI harus dibagi.

Beberapa pekerja chip memori perusahaan akan menerima total bonus sekitar US$416.000 tahun ini.

Pekerja di unit pabrik dan desain chip logika Samsung akan menerima bonus yang jauh lebih kecil tetapi masih substansial, sementara mereka yang bekerja di divisi lain seperti smartphone dan peralatan rumah tangga akan menerima bonus yang lebih kecil lagi.

Sekelompok kecil pemegang saham individu juga mengumumkan bahwa mereka akan menggugat jika kesepakatan tersebut diratifikasi oleh anggota serikat pekerja, dengan alasan bahwa sebagian dari perjanjian tersebut melanggar hukum kecuali jika disetujui oleh pemegang saham.

Saham Samsung berakhir 2,2% lebih tinggi pada Selasa (26/5). Saham tersebut telah naik 8% sejak kesepakatan tercapai minggu lalu, meskipun kenaikan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan lonjakan 18% untuk pesaingnya, SK Hynix.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kekuatan Infrastruktur Data Dorong Ekonomi Digital Era AI