Situasi Darurat, Buruh Mogok Massal-Negara Bisa Rugi Rp 1.174 Triliun

Redaksi,  CNBC Indonesia
18 May 2026 13:15
Ribuan serikat pekerja di Samsung Electronics  menghadiri aksi unjuk rasa di Korea Selatan pada Kamis (23/4/2026). Aksi ini digelar menjelang ancaman mogok kerja bulan depan yang berpotensi mengganggu pasokan chip, di tengah lonjakan permintaan akiba
Foto: Ribuan serikat pekerja di Samsung Electronics menghadiri aksi unjuk rasa di Korea Selatan pada Kamis (23/4/2026). Aksi ini digelar menjelang ancaman mogok kerja bulan depan yang berpotensi mengganggu pasokan chip, di tengah lonjakan permintaan akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI). (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis kelangkaan chip memori global sudah memicu lonjakan harga perangkat elektronik konsumen di berbagai belahan dunia. Harga HP, laptop, konsol game, dan perangkat rumah tangga, mulai mengalami kenaikan yang bermakna.

Kelangkaan ini merupakan imbas dari 'ledakan' AI yang membuat permintaan chip berkapasitas tinggi (HBM) kian tak terkontrol. Alhasil, produsen chip mengesampingkan produksi chip memori konvensional untuk perangkat elektronik konsumen dan berakibat pada kelangkaan.

Di tengah kondisi krisis ini, muncul tantangan besar bagi Samsung Electronics yang notabene merupakan produsen chip memori terbesar di dunia. Samsung menghadapi masalah internal, yakni ancaman mogok besar-besaran dari para pekerja.

Negosiasi terkait skema gaji dan bonus antara serikat pekerja dan pihak manajemen Samsung hingga kini belum menemui titik tengah. Serikat pekerja Samsung Electronics mengatakan pihaknya bersedia mengadakan pembicaraan setelah 7 Juni 2026. Namun, mereka menegaskan akan tetap mempertahankan rencana pemogokan kerja mulai 21 Mei 2026.

Para pejabat pemerintah Korea Selatan, termasuk perdana menteri dan menteri keuangan, telah menyuarakan kekhawatiran bahwa pemogokan di Samsung harus dihindari dengan segala cara. Pemerintah memperingatkan bahwa hal itu dapat menimbulkan risiko signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, ekspor, dan pasar.

Situasi Darurat Sudah Mencekam

Dikutip dari Android Headlines, Senin (18/5/2026), Samsung secara resmi telah memasuki 'mode manajemen darurat'. Raksasa Korea Selatan tersebut dikatakan secara aktif bersiap menghadapi potensi skenario terburu.

Laporan industri Korea Selatan mengatakan Samsung sudah mawas diri dengan penghentian total lini produksi otomatis ultra-canggihnya karena pemogokan yang akan terjadi menyusul gagalnya negosiasi dengan serikat pekerja.

Perlu diketahui, menjalankan fasilitas fabrikasi silikon tidaklah mudah. Mesin-mesin canggih di jalur produksi DRAM di Kampus Pyeongtaek Samsung beroperasi terus menerus.

Seluruh proses sangat sensitif terhadap kontaminasi atmosfer. Oleh karena itu, membiarkan produk menganggur di tengah produksi dapat merusak persediaan senilai jutaan dolar.

Untuk menghindari petaka ini, tim produksi dilaporkan telah mengerahkan protokol 'warm-down'. Sumber dalam industri mengungkap para pekerja telah mengevakuasi sekitar 15.000 kontainer wafer khusus dari peralatan logistik otomatis yang aktif.

Para ahli industri memperkirakan sekitar 360.000 wafer individual telah dievakuasi. Dengan cara ini, manajemen memastikan bahwa komponen-komponen yang sensitif tidak akan terjebak dan rusak di dalam sistem jika fasilitas tersebut kehilangan staf operasionalnya sebagai imbas aksi pemogokan massal.

Sebagai tambahan, Samsung juga dikatakan telah membatasi komponen-komponen mentah baru untuk masuk ke dalam lini produksi. Mereka mengalihkan kapasitas yang tersisa secara eksklusif ke produk-produk dengan margin tinggi seperti HBM.

Tuntutan Serikat Pekerja

Protokol darurat ini dijalankan sebagai dampak dari mandeknya negosiasi antara manajemen dengan serikat pekerja yang mewakili 44.000 pekerja Samsung.

Menyusul gagalnya negosiasi yang dimediasi pemerintah, serikat pekerja mengumumkan pemogokan massal selama 18 hari yang dijadwalkan mulai 21 Mei mendatang.

Pertentangan antara serikat pekerja dan Samsung bertumpu pada sistem bonus perusahaan yang dinilai sangat ruwet. Serikat pekerja menginginkan skema bonus yang transparan dan dijamin dengan hukum.

Mereka menginginkan perusahaan mengalokasikan 15% dari total profit operasional untuk insentif pekerja di divisi semikonduktor, sesuai dengan kinerja.

Serikat pekerja juga menuntut penghapusan total batasan bonus yang berlaku saat ini. Di sisi lain, manajemen bertujuan untuk mempertahankan format pembagian keuntungan yang ada, hanya menawarkan insentif tambahan jika divisi chip berhasil meraih posisi teratas di pasar global.

Dampak Global

Kondisi yang terjadi saat ini di internal Samsung akan berdampak besar dari sisi finansial. Analis keuangan memperkirakan, bahkan jeda sebagian yang dikelola dengan baik dapat dengan mudah menguras pendapatan perusahaan sebesar 20 miliar dolar AS.

Namun, jika pemogokan menyebabkan pembekuan jalur produksi yang kacau dan tidak terkendali, operasi pemulihan dapat berlarut-larut selama lebih dari sebulan, mendorong total kerugian ekonomi melewati 100 triliun won (Rp1.174 triliun).

Samsung merupakan tulang punggung penting bagi distribusi chip memori global. Oleh karena itu, bahkan pemerintah Korea Selatan pun memantau situasi ini.

Pembekuan yang berkepanjangan selama siklus pasar yang aktif dapat merugikan perekonomian nasional dan menciptakan kekurangan komponen di seluruh dunia.

Meskipun para eksekutif telah memberikan undangan terakhir untuk dialog langsung, para pemimpin serikat pekerja menolak untuk bernegosiasi kecuali Co-CEO Jun Young-hyun membawa proposal kompromi konkret ke meja perundingan.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Demo Buruh Besar-Besaran, Pemerintah Warning Ekonomi Bisa Ambruk


Most Popular
Features