Tanda Kiamat Makin Dekat, Sudah Terlihat Jelas di Susu dan Keju

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Rabu, 20/05/2026 18:40 WIB
Foto: Ilustrasi Keju Parmigiano. (Dok. rawpixel.com / Rob/rawpixel.com / Rob via Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis perubahan iklim membawa dampak hingga ke industri keju. Para peneliti menyoroti kualitas susu sapi yang mulai berubah akibat kondisi lingkungan dan pola pakan ternak yang terdampak perubahan cuaca ekstrem.

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Dairy Science oleh Universite Clermont Auvergne di Prancis menunjukkan rasa susu sapi mengalami perbedaan dibanding sebelumnya. Perubahan itu berkaitan dengan jenis makanan yang dikonsumsi sapi.


Karena perubahan itu, membuat rasa kandungan gizi susu berubah. Pada akhirnya rasa keju pun menjadi kurang nikmat.

"Kalau perubahan iklim terus berjalan seperti sekarang, kita akan merasakannya dalam rasa keju kita," ujar Matthieu Bouchon, peneliti utama dari studi tersebut kepada Science News, dikutip Rabu (20/5/2026).

Mereka melakukan penelitian pada 2021 dengan membandingkan dua kelompok sapi. Salah satunya mengonsumsi rumput dan sisanya diberi pakan tambahan.

Sapi yang makan jagung akan menghasilkan sapi dengan volume setara dan emisi metana lebih rendah. Namun rasa susu yang dihasilkan kurang gurih dan kaya dibandingkan dengan sapi yang mengonsumsi rumput.

Sapi yang merumput juga memiliki lebih banyak asam lemak omega-3 dan asam laktat. Kandungan ini penting bagi kesehatan jantung dan sistem pencernaan.

Fenomena ini terjadi pada banyak wilayah. Mulai dari Eropa hingga Brasil.

Salah satu peternak sapi perah asal Brasil, Gustavo Abijaodi mengatakan perubahan iklim membuat kandungan susu di sana menurun.

"Kami menghadapi banyak masalah dengan kandungan protein dan lemak dalam susu karena suhu panas," ungkap Abijaodi. "Kalau kami bisa menstabilkan dampak panas, sapi akan menghasilkan susu yang lebih baik dan bergizi."

Temuan lainnya adalah pola makan sapi berubah. Sebab suhu ekstrem karena pemanasan global membuat sapi makan lebih sedikit.

"Sapi menghasilkan panas saat mencerna makanan, jadi kalau mereka sudah merasa panas, mereka akan makan lebih sedikit untuk menurunkan suhu tubuhnya," kata Pakar peternakan lainnya, Marina Danes dari Universitas Federal Lavras, Brasil.

Sapi yang makan lebih sedikit akan membuat daya tahan tubuh hewan menjadi menurun. Selain itu juga akan membuat hewan menjadi rentan terkena penyakit.

"Proses ini bisa berujung pada penurunan daya tahan tubuh, membuat hewan lebih rentan terkena penyakit," jelasnya.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Modal & Jurus Ekspansi RI Jadi Hub Data Center ASEAN Era AI