CNBC Insigth

Peristiwa Nabi Musa Membelah Laut, Ini Hasil Kajian Menurut Sains

Tim Redaksi, CNBC Indonesia
Minggu, 17/05/2026 15:00 WIB
Foto: Pemandangan udara menunjukkan pantai Laut Merah, melalui jendela pesawat sebelum mendarat, di Marsa Alam, Mesir 23 Maret 2025. (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah peneliti mengkaji penjelasan ilmiah di balik kisah pembelahan Laut Merah oleh Nabi Musa yang tertulis dalam kitab suci. Kajian tersebut mencoba melihat peristiwa tersebut dari sudut pandang sains untuk memahami bagaimana hal itu bisa terjadi.

Para ahli berpendapat bahwa ada penjelasan rasional mengenai kejadian yang diperkirakan berlangsung 3.500 tahun lalu itu. Menurut mereka, peristiwa tersebut mungkin saja terjadi karena faktor alam tertentu tanpa harus melibatkan kekuatan ilahi.

Penjelasan ilmiah yang diajukan para ilmuwan adalah adanya kombinasi antara cuaca ekstrem dan kondisi geologi yang mendukung. Faktor-faktor alam inilah yang dianggap memungkinkan air laut terbelah pada waktu itu.


Pemodelan komputer menunjukkan bahwa hembusan angin kencang sekitar 100 km/jam dari arah tertentu mampu membuka jalur selebar 5 kilometer di laut dangkal. Begitu angin mereda, air akan kembali dengan deras menyerupai tsunami, menelan pasukan Firaun yang mengejar.

Carl Drews, oseanografer dari National Center for Atmospheric Research, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan perpaduan antara alam dan ketepatan waktu.

Menurut kisah Alkitab, setelah tujuh tulah di Mesir, Musa memimpin bangsa Israel keluar menuju padang gurun untuk mencari tanah yang dijanjikan.

Namun, mereka terjebak di antara pasukan Firaun yang mengejar di satu sisi dan luasnya Laut Merah di sisi lain.

Setelah menunggu semalam, Musa dikisahkan mengulurkan tangannya hingga laut terbelah, menciptakan jalur kering dengan dinding air di kedua sisi.

Peristiwa ini diyakini terjadi di Teluk Aqaba, salah satu bagian Laut Merah yang paling lebar dan dalam.

Perairan ini memiliki lebar hingga 25 km, kedalaman rata-rata 900 meter, dan titik terdalam hampir 1.850 meter.

Dalam riset arkeologi modern menunjukkan lokasi berbeda. Jika Musa benar-benar menyeberangi bagian dari Laut Merah modern, kemungkinan besar peristiwa itu terjadi di Teluk Suez.

Perairan panjang dan sempit ini memisahkan Mesir bagian barat dengan Semenanjung Sinai di timur. Lebih penting lagi, Teluk Suez hanya memiliki kedalaman rata-rata 20-30 meter dan dasar yang relatif datar, sehingga penyeberangan lebih masuk akal.

Seperti yang terjadi pada 1789, Napoleon Bonaparte pernah memimpin pasukan berkuda menyeberangi bagian Teluk Suez saat air surut.

Namun, seperti pasukan Firaun, prajurit Napoleon hampir tersapu ketika pasang setinggi 3 meter tiba-tiba kembali memenuhi jalur itu.

Menurut Dr. Bruce Parker, mantan kepala ilmuwan di National Oceanic and Atmospheric Administration, Musa bisa saja menggunakan pengetahuannya tentang pasang surut untuk melarikan diri.

"Musa pernah tinggal di padang gurun sekitar wilayah itu, ia tahu lokasi kafilah menyeberang saat air surut. Ia juga paham langit malam serta metode kuno untuk memprediksi pasang surut, berdasarkan posisi bulan dan fase purnamanya," kata Parker dalam tulisannya di Wall Street Journal.

Sementara itu, pasukan Firaun yang terbiasa dengan Sungai Nil yang tak berpasang surut, tidak mengetahui bahaya itu-hingga akhirnya mereka terjebak ketika air pasang kembali dengan cepat.

Bagi sejumlah ilmuwan, penyebutan angin kencang adalah kunci untuk memahami bagaimana Musa menyeberangi Laut Merah.

Profesor Nathan Paldor, pakar oseanografi dari Hebrew University of Jerusalem, menjelaskan ketika angin kuat bertiup ke selatan dari kepala teluk selama sekitar sehari, air terdorong ke laut, sehingga dasar yang semula terendam menjadi terbuka.

Perhitungan Profesor Paldor menunjukkan bahwa angin berkecepatan 65-70 km/jam dari barat laut dapat membuka jalur bagi bangsa Israel.

Jika angin seperti itu bertiup semalaman, ia bisa mendorong air surut hingga 1,6 km, menurunkan permukaan laut sekitar 3 meter, dan memungkinkan orang menyeberang di punggungan bawah laut.

Meskipun penjelasan ilmiah terdengar masuk akal, Drews menegaskan bahwa sebagai seorang Kristen, ia tetap meyakini kisah tersebut sarat dengan keajaiban.

"Bagi saya pribadi, sebagai seorang Lutheran, saya selalu percaya bahwa iman dan sains dapat berjalan beriringan. Sudah sepatutnya seorang ilmuwan menelaah aspek-aspek alamiah dari kisah ini," ujarnya.

Sanggahan: Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. Lewat kisah seperti ini, CNBC Insight juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan dari masa lampau yang masih bisa dijadikan pelajaran di hari ini.

(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Modal & Jurus Ekspansi RI Jadi Hub Data Center ASEAN Era AI