Hasil Kajian Sains soal Kisah Nabi Musa Belah Laut Merah Terungkap
Jakarta, CNBC Indonesia - Peristiwa membelahnya Laut Merah oleh Nabi Musa AS saat menyelamatkan Bani Israil dari kejaran pasukan Firaun merupakan salah satu mukjizat terbesar yang tercatat dalam kitab suci. Berabad-abad menjadi kisah religius, fenomena ini belakangan memicu rasa penasaran para ilmuwan untuk mengujinya dari sudut pandang sains.
Sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari National Center for Atmospheric Research (NCAR) dan University of Colorado di Boulder (CU) berhasil menemukan model ilmiah yang rasional di balik peristiwa tersebut. Melalui simulasi komputer, para ilmuwan mencoba merekonstruksi bagaimana kondisi alam dapat menciptakan celah daratan di tengah perairan.
Lantas, bagaimana sains menjelaskan fenomena mencengangkan ini?
Berkat Dinamika Fluida dan Angin Timur
Berdasarkan hukum fisika, fenomena terbelahnya air laut ini rupanya dapat dipahami melalui ilmu dinamika fluida. Peneliti utama studi tersebut, Carl Drews, mengungkapkan bahwa kombinasi antara cuaca ekstrem dan kondisi geologi yang spesifik pada masa lampau sangat memungkinkan terjadinya peristiwa itu.
"Perpecahan perairan dapat dipahami melalui dinamika fluida. Angin menggerakkan air dengan cara yang sesuai dengan hukum fisika, menciptakan jalur aman dengan air di kedua sisi dan kemudian secara tiba-tiba memungkinkan air mengalir kembali," jelas Drews, dikutip dari The Guardian.
Dalam pemodelan komputer yang dirancang secara digital, tim peneliti mensimulasikan kondisi angin timur yang bertiup dengan kecepatan sangat tinggi secara konstan sepanjang malam (selama kurang lebih 12 jam). Angin kencang tersebut diperkirakan mencapai kecepatan sekitar 101 kilometer per jam.
Tekanan angin yang begitu kuat secara mekanis mendorong volume air ke satu titik, sehingga menyingkap daratan berlumpur di bawahnya. Simulasi ini menghasilkan sebuah "jembatan darat" kering yang membentang sepanjang 3 hingga 4 kilometer dengan lebar 5 kilometer.
Jalur darurat ini dilaporkan bertahan dalam kondisi kering selama kurang lebih empat jam. Waktu itu cukup bagi rombongan Nabi Musa untuk menyeberang dengan selamat.
Begitu badai angin mereda atau berhenti bertiup, air laut yang tertahan di kedua sisi langsung kembali ke posisi semula dengan sangat cepat akibat gaya gravitasi, menyapu dan menenggelamkan barisan tentara Firaun yang tengah mengejar di belakang.
Mengoreksi Lokasi Geografis Kuno
Menariknya, studi sains ini juga memberikan catatan kritis mengenai lokasi pasti terjadinya peristiwa bersejarah tersebut. Berdasarkan rekonstruksi geografi kuno di wilayah Delta Sungai Nil, Drews mengesampingkan wilayah Laut Merah modern yang membentang dari utara ke selatan, sebagai titik penyeberangan utama.
Secara fisik, bentang alam Laut Merah tidak cocok dengan deskripsi dalam kitab suci yang menyebutkan air tersapu ke satu sisi oleh angin timur.
Sebagai gantinya, tim peneliti memproyeksikan situs penyeberangan legendaris itu terjadi di wilayah selatan Laut Mediterania, tepatnya di sebuah danau atau laguna dangkal di sepanjang area pesisir dekat utara Mesir yang saat ini lokasinya berdekatan dengan Kota Port Said di ujung Terusan Suez.
Formasi daratan kuno berbentuk tapal kuda (U-shaped) di wilayah saluran air Nil purba inilah yang dinilai paling memungkinkan bagi hukum fisika untuk bekerja membelah perairan.
Selain teori dinamika fluida akibat angin, beberapa peneliti lain sempat berspekulasi mengenai potensi fenomena tsunami (tsunami bore) yang dapat membuat air laut mundur dengan cepat.
Namun, hipotesis tsunami tersebut dinilai kurang akurat karena tidak sesuai dengan teks kitab suci yang menjelaskan bahwa proses terbelahnya laut terjadi secara bertahap dalam waktu semalam penuh akibat embusan angin timur yang kuat.
Lewat kajian-kajian ilmiah mutakhir seperti ini, sains tidak bermaksud membantah nilai-nilai teologis, melainkan mencoba menyingkap tabir rahasia alam semesta mengenai bagaimana hukum-hukum fisika dapat bekerja di balik peristiwa bersejarah masa lampau yang masih terus menjadi pelajaran berharga hingga hari ini.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]