Tech & Telco Forum 2026

Hybrid Cloud Jadi Standar Baru, HPE Sebut RI Masuk Titik Balik Positif

Zefanya Aprilia,  CNBC Indonesia
06 May 2026 14:15
Country Manager for FSI & PS, HPE Indonesia, Henry Lo saat menyampaikan pemaparan dalam Tech & Telco Forum 2026 di Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Country Manager for FSI & PS, HPE Indonesia, Henry Lo saat menyampaikan pemaparan dalam Tech & Telco Forum 2026 di Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hewlett Packard Enterprise (HPE) menyebut transformasi digital di Indonesia dinilai telah memasuki fase baru, di mana adopsi teknologi hybrid cloud tidak lagi sekadar opsi, melainkan telah menjadi standar dalam desain infrastruktur perusahaan.

Country Manager for FSI & PS, HPE Indonesia Henry Lo menyebut, saat ini Indonesia berada dalam momentum penting yang mendorong percepatan adopsi teknologi tersebut. Menurutnya, Indonesia sedang dalam tahap "tipping point" atau titik balik yang sangat positif, di mana hybrid cloud ini sudah menjadi standarisasi.

"Kenapa menjadi standarisasi kita bukan lagi memilih public cloud yang di atas ataupun ompreng yang di bawah tapi kita itu memilih bagaimana menyeimbangkan dan sekarang itu keseimbangan ini sudah jadi menjadi salah satu standarisasi design temen-temen enterprises untuk memberikan kenyamanan ataupun pelayanan yang lebih bagus kepada pelanggan," jelas Henry di Tech & Telco Forum CNBC Indonesia di Auditorium Menara Bank Mega, Rabu (6/5/2026).

Itu merupakan faktor pertama yang disebutnya positif. Faktor kedua, HPE menyebut kemampuan edge computing. Yakni, bagaimana menghadirkan kekuatan komputasi lebih dekat ke pelanggan.

Henry menyebut penyediaan kekuatan komputasi ke daerah-daerah pelosok dengan limitasi konektivitas dapat mengurangi ketergantungan konektivitas ke pusat, yang mayoritas berada di Pulau Jawa.

Menurutnya, pergeseran ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak lagi terjebak pada pilihan antara public cloud atau on-premise, melainkan mulai mengedepankan keseimbangan keduanya demi meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan. Selain itu, tren edge computing juga menjadi pendorong utama, terutama dalam menjangkau wilayah dengan keterbatasan konektivitas.

Namun demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam memastikan performa sistem tetap optimal seiring ekspansi digital yang semakin masif.

Henry menegaskan bahwa efisiensi energi dan ekspansi digital bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang, melainkan dapat berjalan beriringan melalui inovasi teknologi. Ia mencontohkan, penggunaan sistem direct liquid cooling yang mampu mengurangi energi hingga 90%.

"Kami melihat ekspansi digital dengan efisiensi energi itu tidak bertolak belakang ini adalah inisiasi strategis," tutur Henry.

Ia menambahkan, pendekatan berbasis keberlanjutan, efisiensi energi, serta penyederhanaan arsitektur menjadi kunci dalam memastikan teknologi dapat diimplementasikan secara merata tanpa mengorbankan performa.

Dengan kombinasi hybrid cloud, edge computing, dan inovasi efisiensi energi, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi digital secara inklusif di berbagai wilayah.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Warga RI Ramai-ramai Serbu Teknologi Baru, Eropa Ketinggalan


Most Popular
Features