Animasi AI Makin Menjamur di Indonesia, Animator Terancam Punah?
Berbeda dari Visorra, Unicam, dan Epic Anima, studio animasi Dipadira Studios yang berbasis di Yogyakarta, belum mengadopsi teknologi AI dalam proses pembuatan animasi.
Sebagai informasi, Dipadira Studios turut terlibat dalam penggarapan film animasi 'Jumbo' yang tayang di bioskop pada Maret 2025 dan sempat tercatat sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan lebih dari 10 juta penonton, sebelum akhirnya dilengserkan film Agak Laen: Menyala Pantiku.
Dipadira Studios lebih fokus mengerjakan proyek animasi berbentuk serial televisi dan film, serta mengembangkan beberapa produk ciptaan sendiri atau Intellectual Property (IP), seperti Mentimoon dan Kwartet the Adventure. Berbeda dengan Visorra, Unicam, dan Epic Anima, yang lebih banyak mengerjakan animasi untuk kebutuhan iklan atau branding.
Pendiri Dipadira Studios, Dieky Suprayogi, menilai kemunculan AI sebagai konsekuensi perkembangan teknologi yang akan terus berjalan dan mengubah lanskap industri, suka atau tidak suka. Meskipun studionya belum mengadopsi AI, Dieky tak serta-merta mengharamkan penggunaan AI.
"Untuk sekarang kami lebih suka produksi animasi secara manual aja. Ke depannya nggak ada yang tahu bakal seperti apa," ujarnya.
Menurut Dieky, industri animasi memiliki ceruk yang sangat luas. Setiap pendekatan dalam produksi animasi, manual atau AI, memiliki pasar masing-masing. Oleh karena itu, Dipadira tidak merasa terancam dengan maraknya studio-studio animasi AI yang bermunculan.
Di saat bersamaan, Dieky juga tidak serta-merta tutup mata dengan perkembangan teknologi AI yang kian masif. Ia mengatakan Dipadira sudah mulai mengulik dan mempelajari tool-tool AI yang tersedia di pasaran, serta memilah mana saja tahapan kerja yang berpotensi bisa memanfaatkan AI di masa depan. "Kita udah siap, tetapi belum mengarah ke sana," ia menegaskan.
Dermawan dari DKV Binus University mengatakan ada perbedaan signifikan antara produk animasi 'commerce' seperti iklan, dengan animasi 'entertainment' seperti serial televisi dan film. Hal ini turut memengaruhi relevansi penggunaan AI dalam proses produksinya.
Animasi untuk iklan memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap waktu. Objektifnya berlomba-lomba untuk mempromosikan suatu produk secepat mungkin, sebelum kompetitor meluncurkan produk serupa. Masa kampanye iklan memiliki periode yang lebih singkat, sebelum digantikan kampanye lain.
Sementara itu, animasi untuk serial televisi dan film tidak perlu mengejar kecepatan waktu tayang dengan intensitas selevel iklan. Ketika dipublikasikan, serial televisi dan film menjadi karya yang bertahan selamanya tanpa ada masa kedaluwarsa, sehingga memiliki nilai jual.
"Tool AI mempermudah pengerjaan animasi iklan karena ada tuntutan kecepatan. Nggak realistis ketika masih pakai cara lama. Kalau serial televisi atau film sifatnya long-lasting, berarti perputaran ekonominya panjang," Dermawan menjelaskan.
Dieky dari Dipadira Studios mengatakan proses pengerjaan serial televisi dan film animasi membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bisa mencapai tahunan, tergantung skalanya. Biaya produksinya jauh lebih tinggi ketimbang pembuatan animasi untuk iklan, berkisar Rp50-150 juta per menit.
Sebagai gambaran, dalam konteks film animasi Jumbo, Dipadira Studios bukan satu-satunya studio animasi yang dilibatkan. Film yang disutradarai Ryan Adriandhy dan digarap Visinema Studios tersebut juga menggandeng Leomotions, Ayena Studio, Motion Circus Animation, HawQ Studio, dan Aras Design and Motion. Urusan pemodelan, efek visual, pencahayaan, rekacitra, dan efek suara, dikerjakan studio-studio spesialis lainnya.
AI Bisa Sepenuhnya Menggantikan Animator?
Karakteristik industri animasi yang padat karya (labor-intensive) dan padat modal (capital-intensive), membuat teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi solusi efektif dari segi bisnis. Studio-studio kecil yang tidak memiliki kapasitas untuk merekrut tim berskala besar, memiliki kesempatan untuk mengembangkan proyek animasi berkualitas. Lantas, apakah tool AI lambat-laun akan menggerus relevansi animator profesional?
"Banyak yang ngomong animator akan terancam. Menurut saya nggak. Fundamentalnya mereka nggak akan hilang, tetapi cara mereka mengekspresikan visual tidak lagi pakai cara lama. Itu aja kok," kata Dermawan dari DKV Binus University.
Dermawan menjelaskan, animasi AI yang dihasilkan animator profesional dan orang awam berbeda jauh. Orang awam umumnya hanya memasukkan prompt ke tool AI-generatif untuk menciptakan animasi. Jika tool AI gagal memahami prompt yang dimasukkan, hasilnya tak jauh dari konten-konten AI slop yang mudah ditemui di jagat maya.
Sementara itu, animasi AI yang dibuat animator profesional umumnya bukan hasil otomasi sepenuhnya. Tujuannya lebih mengarah ke efisiensi waktu produksi. Dengan ilmu animasi yang dimiliki, animator melakukan tahapan motion control, agar scene yang dihasilkan tool AI benar-benar sesuai harapan.
Sederhananya, pemodelan dan pengembangan gerakan suatu karakter tetap dilakukan animator, tetapi simulasi untuk memperhalus gerakan rambut dan komponen lainnya, agar tampak realistis, dilakukan tool AI.
"Jadi, tool AI ini mampu mendapatkan level of detail, yang kalau dikerjakan manusia, butuh komputer setara yang dimiliki industri Hollywood. Harus merekrut ahli simulasi level Hollywood," ia menuturkan.
Dermawan tak menampik ada beberapa pekerjaan dalam ekosistem industri animasi yang terancam, tetapi bukan peran animatornya. Beberapa peran yang menurutnya perlu waspada adalah simulator artist, texture artist, 3D rendering artist, dan storyboard artist.
"Bukan berarti tidak ada sama sekali pekerjaan yang terancam. Tentu ada yang terancam, tetapi bukan soul-nya animasi, yaitu animator dan visual artist. Sisanya itu supporting," ujarnya.
Sedikit berbeda, Dieky dari Dipadira Studios menilai semua peran dalam industri animasi bisa saja terkena dampak dari kemunculan tool AI yang kian masif. "Dari tim produksi, manajemen, bahkan animator [bisa terdampak]. Tergantung berapa persennya, tetapi pasti kena," ia menjelaskan.
Tim Dipadira Studios saat ini berjumlah sekitar 100 orang, jauh melebihi tim di Visorra dan Unicam yang 'hanya' berkisar belasan hingga puluhan orang. Dari 100 karyawan Dipadira Studios, sebanyak 70% merupakan animator.
Dieky menilai bisa saja di masa depan jumlah timnya tetap 100 orang, tidak bertambah atau berkurang, tetapi skala pengerjaannya jauh lebih besar. "Itu bisa saja. Namun, kalau bicara AI, pasti akan ada efisiensi yang lumayan tinggi," ujarnya.
Sebagai informasi, Dipadira Studios juga Dipadira Studio juga bermitra dengan SMK yang memiliki spesialisasi dalam animasi. Tujuannya membekali calon animator dengan keterampilan dan wawasan yang relevan dengan kebutuhan industri. Adapun bimbingan yang diberikan melibatkan pelatihan, kesempatan magang, dan program praktik kerja.
Dieky mengatakan para lulusan SMK yang dibimbing sejauh ini 100% sudah terserap di Dipadira Studios dan studio-studio animasi lainnya.
"Secara pribadi, aku selalu share ke anak-anak bimbingan kami, jadi mereka juga aware dengan perubahan ini. Aku nggak pernah menutup-nutupi. AI akan jadi sesuatu yang masuk ke industri kita. Mereka tahu bahwa posisi mereka itu bisa tergantikan kalau tidak bisa lebih baik dari AI atau tidak menggunakan AI. Minimal tahu caranya," Dieky menuturkan.
Baru-baru ini, Dieky juga dilibatkan dalam penyusunan panduan kurikulum SMK di bidang animasi. Ia mengatakan dalam diskusi tersebut, sudah mulai ada wacana untuk memasukkan AI dalam mata pelajaran.
"Mungkin lebih ke pengenalan saja dulu karena perlu diobrolin lebih lagi sama orang-orang di universitas. Kemudian harus juga memikirkan dampak positif dan negatif ke pekerja kreatif sekarang. Kami juga sudah bantu dorong AI masuk mata pelajaran biar nggak ketinggalan atau tutup mata tentang ini," pungkasnya.
Terpisah, dalam wawancara CNBC Indonesia sebelumnya, Concept Artist Maximillian R menilai bahwa AI tidak akan bisa menggantikan peran animator, illustrator, dan pembuat film lainnya. Pasalnya, mesin tak bisa menerjemahkan 'mood' untuk menelurkan karya yang emosional dan utuh layaknya ciptaan manusia.
Maximillian tak menampik bahwa AI bisa mempermudah pekerjaan animator untuk tahap pra-produksi tertentu. Ia sendiri mengaku memanfaatkan AI untuk membantu proses pengembangan awal karya, kira-kira porsinya 20-30%.
"AI bisa dijadikan tool, tetapi menurut saya tidak bisa menggantikan [peran manusia]. Alasannya, pertama, AI tidak mempunyai kapabilitas untuk mengerti mood dan tidak bisa mengerti intensi. Kedua, orang industri komunikasinya masih kurang banget, briefing manusia saja masih nggak bisa, apalagi brief AI," kata Maximillian.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]