Animasi AI Makin Menjamur di Indonesia, Animator Terancam Punah?

Kartini Bohang,  CNBC Indonesia
04 May 2026 11:40
Animasi AI/Adobe.
Foto: Adobe

Saat mencari kata kunci 'jasa animasi AI' di mesin pencari Google, terpampang banyak studio yang menawarkan jasa pembuatan animasi AI. Salah satu yang mencuri perhatian kami adalah Visorra yang menjanjikan "Jasa Pembuatan Video AI Hanya 5 Hari Kerja".

Visorra merupakan salah satu dari lima unit bisnis di bawah PT Sora Kreatif Indonesia, yang berfokus pada jasa pembuatan animasi. Perusahaan berbasis di Cijantung, Jakarta, ini menangani klien dari berbagai institusi, mulai dari lembaga pemerintah, BUMN, hingga UMKM.

Direktur PT Sora Kreatif Indonesia, Shinta Puspita Kencanasari, mengatakan Visorra didirikan sejak 2018 dan mulai mengimplementasikan teknologi AI dalam proses pembuatan animasi sejak pertengahan 2024. Timnya membutuhkan masa transisi selama satu tahun untuk mengadopsi tool AI.

Masa transisi itu tidak serta-merta berjalan mulus. Sempat ada keengganan dari tim animator. Alasannya, penggunaan AI justru menambah tahapan pekerjaan baru, yakni prompting. Visual yang dihasilkan tool AI juga kerap masih memiliki distorsi, sehingga perlu proses quality control yang lebih mendetail ketimbang saat mengerjakan animasi dengan cara manual.

Terlepas dari tantangan-tantangan tersebut, tool AI membantu Visorra menghemat waktu dan biaya saat mengerjakan proyek-proyek animasi untuk kategori sederhana hingga menengah. "Kalau tipe animasi sederhana, bisa memakan waktu 12 hari kerja dengan proses full manual. Sementara kalau pakai AI, bisa 5-10 hari kerja sampai selesai," Shinta menjelaskan.

Harga yang dipatok mulai Rp2,5-4 juta per menit untuk video animasi AI level sederhana-menengah. Jika membutuhkan kompleksitas lebih, harga termahalnya di kisaran Rp8,5-10 juta per menit.

Untuk tipe animasi yang bersifat teknis dan membutuhkan konsistensi visual lebih tinggi, Visorra masih menitikberatkan pada proses pengerjaan manual dengan sedikit bantuan AI untuk pembuatan storyboard dan voice over (VO). Rata-rata waktu yang dibutuhkan berkisar 2-3 bulan. Harganya dipatok Rp18-20 juta per menit.

Pendapatan Naik 50% Gara-gara AI

Sama seperti Visorra, Unicam Studio yang berbasis di Yogyakarta juga mulai menerapkan tool AI untuk pengerjaan animasi sejak 2024, melalui anak usahanya yang bernama Unimasi. CEO Unicam Studio, Andri Saputro, menceritakan awal-mula penggunaan AI justru karena permintaan klien.

"Waktu itu Oktober 2024 ada klien yang mau dibuatkan film dokumenter tanpa shooting. Saya sanggupi permintaan dia dan ternyata hasilnya memuaskan. Dari situ nama saya dikenal dan makin banyak permintaan untuk membuat proyek animasi AI dari universitas, rumah sakit, dan berbagai industri. Bahkan, baru-baru ini brand dari Australia juga yang meminta kami untuk membuatkan animasi AI [...]. Bulan Juli nanti saya akan ke Rusia juga untuk pameran menampilkan video AI kami," kata Andri kepada CNBC Indonesia.

Menurut Andri, pembuatan animasi AI tidak serta-merta menghilangkan peran animator. Keterampilan dasar animator tetap diperlukan untuk membuat desain visual dan memastikan kualitas yang dihasilkan AI sesuai dengan standar animasi profesional. Namun, ia tak menampik bahwa pembuatan animasi AI akan memangkas jumlah kru yang terlibat, sehingga bujet produksi juga bisa diminimalisir.

"Masalah bujet jauh banget bedanya. Sangat-sangat ekonomis ketika menggunakan AI. Misalnya saya ada proyek dengan perusahaan sawit yang ingin memperlihatkan suasana masa depan. Kalau bikin 3D-nya mungkin bisa sampai Rp500 juta atau miliaran karena sangat kompleks dan detail. Ketika menggunakan AI, bujet bisa ditekan sampai hanya dua digit. Mungkin bisa tinggal 10% dari anggaran yang semestinya dikeluarkan dengan proses manual," Andri menjelaskan.

Dari segi pendapatan, Andri mengaku Unicam mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 50% setelah menggunakan AI, dibandingkan dengan 2023 saat proses pembuatan animasi masih sepenuhnya memakai cara manual.

Saat ini Unicam mempekerjakan 15 karyawan, 4 di antaranya berperan sebagai animator. Andri menekankan peran animator sangat krusial agar bisa menjalankan software AI secara maksimal. Alih-alih melakukan PHK, Unicam justru berencana membuka perekrutan karyawan baru, seiring tingginya permintaan untuk pembuatan animasi AI.

"AI itu mau nggak mau tidak bisa kita lawan, tetapi harus dirangkul. Kalau mau dilawan, ya susah," ujarnya.

Pendiri Epic Anima, Nurul Maagrufah, memiliki pendapat serupa. Perusahaannya yang berdiri sejak 2017 relatif masih baru menawarkan jasa animasi AI, yakni pada awal 2026 ini. Timnya sudah mulai mendiskusikan potensi penggunaan AI sejak akhir 2025.

"Keputusan ini [menggunakan AI] didorong dua hal. Pertama, kami melihat perkembangan AI yang sangat progresif dan mulai membentuk kebutuhan baru di pasar. Kedua, sebagai perusahaan kreatif, kami perlu beradaptasi dan mempersiapkan diri terhadap arah industri ke depan," Nurul menjelaskan.

Saat ini, realisasi proyek animasi di Epic Anima memang masih didominasi pengerjaan secara manual. Lebih perinci sepanjang Januari-Maret 2026, Nurul mengatakan Epic Anima mengerjakan 60% proyek animasi manual dan 40% proyek animasi AI.

Kendati demikian, tren pasar sudah bergeser ke animasi AI. Sebanyak 70% perusahaan atau klien potensial Epic Anima lebih berminat ke pembuatan animasi AI, berbanding 30% untuk pembuatan animasi manual.

Nurul menekankan Epic Anima sejauh ini cenderung lebih nyaman mengerjakan proyek animasi secara manual, terutama untuk proyek-proyek yang membutuhkan kontrol kualitas, integrasi branding, dan kepastian hasil.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features