Kekurangan Pekerja, Maskapai Jepang Uji Coba Pakai Robot di Bandara

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Jumat, 01/05/2026 19:10 WIB
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Japan Airlines mulai menguji penggunaan robot humanoid untuk operasional darat di Bandara Haneda, Tokyo, di tengah kekurangan tenaga kerja yang kronis.

Melansir CNBC, uji coba ini dilakukan bekerja sama dengan GMO AI & Robotics untuk menangani tugas seperti pemuatan bagasi dan pembersihan kabin mulai Mei.


Langkah ini diambil seiring sektor penerbangan Jepang menghadapi lonjakan permintaan wisata dan menyusutnya tenaga kerja akibat populasi yang menua. Robot humanoid tersebut rencananya akan diterapkan secara bertahap di Bandara Haneda dengan masa uji coba selama dua tahun.

Dalam demonstrasi teknologi, robot humanoid buatan perusahaan China Unitree Robotics terlihat mampu memindahkan barang di conveyor belt hingga berinteraksi dengan pekerja. Namun, belum jelas apakah Unitree terlibat langsung dalam uji coba tersebut atau hanya menjadi bagian dari evaluasi teknologi yang tersedia secara komersial.

Japan Airlines menyatakan masih melakukan studi kelayakan dan penilaian risiko terkait implementasi teknologi ini. Sementara itu, Unitree belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait keterlibatan mereka.

Saham Japan Airlines tercatat naik sekitar 3% pada hari perdagangan pertama Mei, meski secara year-to-date masih turun sekitar 13%. Di sisi lain, Unitree sebelumnya menarik perhatian publik lewat demonstrasi model H1 dalam acara China Spring Festival Gala pada Februari lalu.

Analis menilai tren demografi seperti populasi menua dan rendahnya angka kelahiran mendorong kebutuhan robot humanoid di berbagai sektor. Barclays menyebut kondisi ini membuka peluang bagi robot untuk mengambil peran dalam pekerjaan penting yang kurang diminati manusia.

Menurut data Organisation for Economic Co-operation and Development, populasi usia kerja Jepang diperkirakan menyusut hingga 31% dari 2023 hingga 2060. Direktur riset Counterpoint, Marc Einstein, memperkirakan robot humanoid akan semakin berperan dalam pasar tenaga kerja Jepang.

Dengan basis dukungan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang cenderung pada kebijakan imigrasi ketat, pemerintah diperkirakan akan mendorong penggunaan robot humanoid. Pemerintah Jepang juga telah merilis panduan penggunaan robotika dan kecerdasan buatan untuk mengatasi penurunan tenaga kerja akibat penuaan populasi.

Data Japan National Tourism Organization menunjukkan kedatangan wisatawan internasional naik 3,5% secara tahunan pada Maret, sehingga menambah tekanan pada operasional bandara. Kondisi ini memperkuat urgensi adopsi teknologi otomatisasi di sektor penerbangan.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih membayangi pengembangan robot humanoid. Kemampuan robot dalam melakukan tugas yang membutuhkan ketelitian tinggi dinilai masih terbatas, sementara aspek pemrograman dan penalaran juga belum sepenuhnya matang.

Barclays menyebut robotika fisik sebagai frontier berikutnya dalam pengembangan kecerdasan buatan, dengan potensi nilai industri mencapai US$1,4 triliun pada 2035 dari saat ini sekitar US$2-3 miliar. Namun, para analis menilai robot humanoid masih membutuhkan keterlibatan manusia dalam operasionalnya karena kecerdasannya yang belum sepenuhnya berkembang.

Meski begitu, dengan laju perkembangan teknologi saat ini, Counterpoint memperkirakan implementasi skala besar robot humanoid dapat terealisasi dalam lima tahun ke depan.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Microsoft Tawarkan Program Pensiun Dini Bagi Ribuan Karyawan