Kejayaan Nvidia Mulai Runtuh, Taktik China Tak Main-main

Redaksi,  CNBC Indonesia
02 April 2026 14:05
Nvidia. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)
Foto: Nvidia. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya China untuk melepas ketergantungan terhadap teknologi chip canggih Amerika Serikat (AS) mulai membuahkan hasil nyata. Hal ini sekaligus menjadi penanda runtuhnya kejayaan raksasa chip asal AS, Nvidia, di salah satu pasar penting bagi kelangsungan bisnisnya.

Laporan yang dikutip dari Reuters, Kamis (2/4/2026), mengatakan produsen GPU dan chip AI asal China telah menguasai hampir 41% pangsa pasar server akselerator AI di negara mereka. Pertumbuhan tersebut terjadi seiring dorongan pemerintahan Xi Jinping agar lembaga-lembaga negara dan perusahaan-perusahaan China mengadopsi chip domestik.

Melepas ketergantungan dari AS sudah menjadi prioritas China sejak beberapa tahun terakhir. Terlebih, AS terus-terusan memblokir akses China terhadap chip tercanggih buatan Nvidia.

Belakangan, Presiden AS Donald Trump memang melunak. Chip H200 Nvidia, yang merupakan prosesor tercanggih kedua keluaran perusahaan, sudah diizinkan dijual ke China dengan beberapa syarat. Namun, ketidakpastian sikap Trump membuat China tetap melanjutkan pengembangan industri chip dalam negeri.

Total pengapakan kartu akselerator AI oleh Nvidia, AMD, dan produsen China mencapai sekitar 4 juta unit di negara kekuasaan Xi Jinping, menurut data yang dilaporkan Reuters.

Nvidia memang masih berperan sebagai pemimpin pasar, dengan mengapalkan sekitar 2,2 juta kartu dan menguasai 55% pangsa pasar. Kendati demikian, pangsa pasar itu terus tergerus dengan pemain China yang makin besar mengambil 'kue' besar di dalam negeri.

AMD hanya mengambil sedikit porsi, dengan pengapalan 160.000 kartu di China, atau berkontribusi terhadap 4% pangsa pasar.

Sementara itu, produsen-produsen China secara kolektif telah mengapalkan 1,65 juta kartu, atau setara 41% dari total pangsa pasar domestik. Pencapaian ini tak bisa dianggap remeh dan menunjukkan upaya pemain lokal yang agresif untuk mengisi kekosongan saat pemerintah AS melancarkan kontrol ekspor chip ke China.

Huawei Technologies muncul sebagai pemimpin di antara produsen-produsen China lainnya, dengan mengapalkan sekitar 812.000 chip AI. Angka itu setara hampir setengah pengapalan dari produsen domestik. Unit desain chip Alibaba, T-Head, mengklaim berada di posisi kedua, dengan mengapalkan sekitar 265.000 kartu.

Kunlunxin milik Baidu dan Cambricon masing-masing mengapalkan sekitar 116.000 kartu, membuat keduanya bersama-sama berada pada posisi kedua di jejeran produsen China.

Hygon, MetaX, dan Iluvatar CoreX, masing-masing berkontribusi terhadap 5%, 4%, dan 4% dari total pengapalan domestik dari produsen China.

Pada 2025 lalu, pemerintah pusat menggelontorkan gelombang pengeluaran baru untuk infrastruktur AI. Pemerintah daerah menggunakan anggaran itu untuk mempercepat pembangunan data center AI di berbagai provinsi. Mayoritas infrastruktur baru yang dibangun diarahkan untuk membeli chip buatan China.

(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Muncul Raja Chip Baru, Nvidia Beri Komen Tak Terduga


Most Popular
Features