Dunia Kerja Makin Suram, PHK Menggila Ramai-ramai Tunjuk Kambing Hitam

Redaksi, CNBC Indonesia
Rabu, 01/04/2026 11:00 WIB
Foto: infografis/infografis bank di dunia yang melakukan PHK terhadap karyawannya/Aristya Rahadian krisabella

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena baru terjadi di industri teknologi dunia. Kalau sebelumnya gelombang PHK massal disebut terjadi karena efisiensi, kini bos perusahaan teknologi justru kompak menyalahkan kecerdasan buatan (AI) sebagai penyebab utama.

Raksasa teknologi seperti Google, Amazon, hingga Meta ramai-ramai mengaitkan PHK karyawan dengan lonjakan kemampuan AI. Bahkan, perusahaan lain seperti Pinterest dan Atlassian juga mengatakan hal yang sama.


CEO Meta, Mark Zuckerberg, menyebut bahwa tahun 2026 sebagai titik balik di mana AI akan mengubah cara kerja secara drastis. Tak lama setelah pernyataan itu, Meta langsung memangkas ratusan karyawan.

"Saya pikir tahun 2026 akan menjadi momen di mana AI mulai secara drastis mengubah cara kita bekerja," ujar CEO Meta, Mark Zuckerberg, pada Januari, dikutip dari BBC, Senin (30/3/2026).

Sementara CEO Block, Jack Dorsey, secara terbuka menyatakan bahwa penggunaan AI memungkinkan perusahaan beroperasi dengan tim yang jauh lebih kecil namun lebih efektif.

Menurutnya, alat berbasis AI telah mengubah definisi membangun dan menjalankan perusahaan. "Tim yang lebih kecil kini bisa melakukan lebih banyak hal, bahkan dengan hasil yang lebih baik," ujarnya.

Namun, tidak semua pihak percaya begitu saja. Investor teknologi Terrence Rohan menilai bahwa menyalahkan AI terdengar lebih baik secara narasi dibandingkan alasan klasik seperti tekanan biaya atau tuntutan pemegang saham.

"Menyebut AI membuat tulisan blog terdengar lebih menarik," ujar Rohan "Atau setidaknya tidak membuat Anda terlihat sebagai pihak jahat yang hanya ingin memangkas karyawan demi efisiensi biaya," imbuhnya.

Di sisi lain, ada faktor besar lain yang mendorong PHK, yakni biaya investasi AI yang sangat masif.

Perusahaan seperti Amazon, Meta, Google, dan Microsoft diperkirakan akan menggelontorkan dana hingga US$ 650 miliar untuk pengembangan AI dalam satu tahun ke depan.

Untuk meredahkan kekhawatiran investor terhadap lonjakan biaya, perusahaan memilih memangkas pengeluaran lain, termasuk tenaga kerja.

Amazon, misalnya, berencana menginvestasikan sekitar US$ 200 miliar untuk AI, sambil terus melakukan efisiensi di lini lain. Sejak Oktober, perusahaan ini telah memangkas sekitar 30.000 karyawan.

Google juga memberikan sinyal serupa kepada investor pada Februari, saat membahas rencana investasi AI.

"Semakin banyak modal yang bisa kami bebaskan dalam organisasi untuk diinvestasikan, semakin baik kami bisa memutar roda investasi guna mendorong pertumbuhan di masa depan," kata kepala keuangan Anat Ashkenazi.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Teknologi Peralatan Rumah Tangga Kian Canggih & Mudahkan Hidup