Amerika Makin 'Parno', Produk China Diblokir Total

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
26 March 2026 12:40
The ZTE 5G plus v2x rsu y 2001 being exhibited at Mobile World Congress (MWC) the biggest trade show of the sector focused on mobile devices, 5G, IOT, AI and big data, celebrated in Barcelona, on March 3, 2022 in Barcelona, Spain.
 (Photo by Joan Cros/NurPhoto via Getty Images)
Foto: Router Internet (Photo by Joan Cros/NurPhoto via Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) semakin serius memutus ketergantungannya pada produk asing. Terbaru pemerintah setempat melarang penggunaan router buatan luar negeri.

Komisi Komunikasi Federal atau FCC AS menyebut router buatan luar AS memiliki risiko keamanan. Aturan terbaru dari FCC memasukkan model produk router jaringan buatan luar negeri pada daftar tercakup (Covered List), dikutip dari Engadget, Kamis (26/3/2026).

Sebagai informasi Covered List adalah daftar perangkat komunikasi yang dianggap memiliki risiko pada keamanan nasional.

FCC memberikan pengecualian pada router yang sudah dibeli sebelumnya. Perangkat ini masih bisa digunakan oleh masyarakat.

Selain itu pengecer juga masih bisa menjual model router asing yang telah mendapatkan persetujuan kebijakan FCC sebelumnya.

Selain itu, perusahaan pemilik produk router asing sebenarnya bisa meminta dikecualikan dari daftar. Mereka dapat mengajukan bersetujuan bersyarat pada Departemen Perang atau Departemen Keamanan Dalam Negeri.

Namun ini artinya para perusahaan harus memasukkan rencana memindahkan produksi ke AS. Setidaknya untuk rencana sebagian produksi mereka.

Engadget mencatat hampir tidak ada atau tidak ada sama sekali merek router yang dikenal dibuat di AS. Nampaknya ini bakal jadi tantangan dan kebingungan perusahaan dengan fasilitas produksi di luar negeri.

Sebab kebijakan baru ini bukan hanya berdampak pada perusahaan router asal China, yang menjadi rival utama AS, saja. Namun juga sejumlah perusahaan AS bakal berpengaruh dengan aturan tersebut.

Perusahaan seperti NetGear, Eero dan Google Nest memiliki fasilitas produksi di Asia. Ini terjadi saat ketiga perusahaan memiliki kantor pusat di AS.

Sebagian aktivitas manufaktur itu berada di wilayah Taiwan, dalam hal ini memiliki hubungan baik dengan AS. Namun belum diketahui nasib ketiga perusahaan tersebut.

Langkah baru ini bagian dari strategi Gedung Putih tahun lalu yaitu AS tidak boleh bergantung pada asing untuk komponen inti. Termasuk dari bahan mentah, suku cadang, hingga produk jadi.

(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Menyerah ke China, Petaka Baru Ancam Amerika


Most Popular
Features