Orang Dekat Trump Sebut Perang Iran Bawa 'Kiamat' Buat Amerika

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 16/03/2026 13:25 WIB
Foto: Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bergabung dengan sekelompok pendeta dalam doa bersama di Ruang Oval Gedung Putih, seperti terlihat dalam video yang dirilis pada Kamis (5/3/2026). (Tangkapan Layar Video Reuters/DAN SCAVINO/@SCAVINO47 VIA X)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang brutal yang dimulai Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran telah meluas di Timur Tengah dan berdampak ke seluruh dunia. Kepala AI Gedung Putih, David Sacks, blak-blakan memperingatkan bahwa kelanjutan perang di Iran bisa membawa 'kiamat'.

Bisa dibilang, Sacks merupakan orang dekat pertama di lingkungan pemerintah Trump yang secara terang-terangan meminta sang presiden untuk segera menghentikan perang.

Dalam podcast 'All In', Sacks mengatakan pemerintahan Trump harus segera mencari jalan keluar dari situasi saat ini yang kian mencekam. Ia mengutarakan kekhawatiran bahwa Iran bisa meruntuhkan semua infrastruktur minyak dan gas di Timur Tengah, dikutip dari The Verge, Senin (16/3/2026).


Selain itu, yang lebih menakutkan, Sacks mengatakan Iran bisa menargetkan pembangkit desalinasi, yang menyediakan air untuk sebagian besar wilayah tersebut. Situasi ini akan menyebabkan krisis kemanusiaan yang lebih besar lagi.

Selama ini Sacks tidak pernah menjadikan upaya kemanusiaan sebagai landasan citra publiknya. Namun, ia memiliki kecenderungan anti-intervensionis yang terdokumentasi dengan baik.

Bahkan, Sacks pernah mengklaim di atas panggung di RNC bahwa Amerika "memprovokasi" Rusia untuk menyerang Ukraina.

Di samping pengabdiannya dalam pemerintahan Trump, Sacks tetap terlibat dalam sektor swasta dan memiliki kepentingan

Terlepas dari pengabdiannya di pemerintahan Trump, Sacks tetap terlibat di sektor swasta dan memiliki kepentingan finansial untuk mendorong AS menghentikan perang di Iran. Menurutnya, stabilitas adalah hal yang diinginkan pasar.

Perang Iran secara spesifik mengancam industri AI, yakni sektor yang menjadi tanggung jawab pengawasan Sacks di Gedung Putih. Serangan balasan yang digencarkan Iran telah memaksa QatarEnergy menyetop produksi gas alam cair dan helium.

Menurut laporan Bloomberg, QatarEnergy berkontribusi terhadap sepertiga total suplai helium global yang penting untuk manufaktur perangkat elektronik dan semikonduktor. Ekonom Andreas Steno Larsen mengatakan kepada Yahoo Finance bahwa perang ini berpotensi mendatangkan guncangan ke seluruh rantai pasok pengembangan AI.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Teknologi Bantu Perusahaan Adopsi-Manfaatkan AI di Layanan CRM