Bukan Dibakar, Ternyata Plastik Bisa Diolah Jadi Bahan Makanan Ini

Intan Rakhmayanti, CNBC Indonesia
Selasa, 03/03/2026 07:50 WIB
Foto: Pedagang menata plastik berbahan polypropylene (PP) homopolymer di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Selasa, (25/11/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Limbah plastik yang selama ini disebut sumber pencemaran lingkungan, ternyata berpotensi diubah menjadi bahan utama cuka.

Peneliti dari University of Waterloo menemukan metode untuk mengonversi plastik menjadi asam asetat dengan memanfaatkan sinar matahari dan katalis berbasis besi. Temuan ini muncul di tengah meningkatnya krisis sampah plastik dunia.

Sejak 1950-an, produksi plastik melonjak tajam dan sebagian jenisnya membutuhkan waktu hingga 500 tahun untuk terurai. Limbahnya kini tersebar di darat, laut, hingga terdeteksi dalam makanan, air minum, bahkan jaringan tubuh manusia.


Selama ini, sebagian besar sampah plastik berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibakar, yang justru menghasilkan emisi karbon dioksida. Daur ulang konvensional pun dinilai belum menyelesaikan persoalan karena kerap menurunkan kualitas material.

Tim peneliti merancang sistem fotokatalisis berantai yang terinspirasi dari cara jamur memecah material keras. Dalam sistem tersebut, plastik pertama-tama diurai menjadi molekul kecil, lalu diubah menjadi asam asetat dalam satu rangkaian proses pada suhu dan tekanan normal.

Kunci teknologi ini adalah katalis Fe2C3N4 SAC yang mengandung atom besi tunggal dengan konsentrasi rendah, sekitar 0,5%. Saat terkena sinar matahari, katalis mengaktifkan hidrogen peroksida dan menghasilkan radikal hidroksil yang memecah rantai plastik.

Plastik awalnya diubah menjadi karbon dioksida sebagai produk antara, sebelum akhirnya dikonversi menjadi asam asetat.

"Metode ini memungkinkan energi matahari yang melimpah dan gratis untuk memecah polusi plastik tanpa menambahkan karbon dioksida tambahan ke atmosfer," ujar Yimin Wu, salah satu penulis studi, dikutip CNBC Indonesia dari laman Earth, Kamis (26/2/2026).

Pengujian menunjukkan metode ini efektif untuk berbagai jenis plastik umum seperti PET, PE, PP, hingga PVC. Bahkan PVC mencatat efisiensi tinggi karena pelepasan klorin yang membantu mempercepat reaksi kimia.

Sistem ini juga mampu mengolah plastik campuran, yang lazim ditemukan dalam limbah rumah tangga. Dalam uji coba dengan campuran PET, PE, dan PP, produksi asam asetat tetap berlangsung stabil.

Untuk meningkatkan hasil, peneliti melapisi reaktor dengan aluminium foil agar cahaya matahari terpantul kembali ke dalam sistem. Cara sederhana ini mampu meningkatkan produksi hingga lima kali lipat.

Meski demikian, masalah harga menjadi salah satu kendala karena biaya hidrogen peroksida relatif tinggi. Peneliti menilai pemanfaatan listrik terbarukan untuk memproduksi bahan tersebut dapat menjadi solusi jangka panjang.

Teknologi ini memang masih berada di tahap laboratorium. Namun riset tersebut membuka peluang baru bagi sistem daur ulang berbasis energi surya yang tak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga menghasilkan produk kimia bernilai tambah dari limbah plastik.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Dukung Transformasi Cloud ke AI, Data Center "Wajib" Punya Ini