Amerika Jiplak Iran, Timur Tengah Ajang Perang Drone Murah
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam serangan yang membunuh Pemimpin Besar Ali Khamenei, Amerika Serikat untuk pertama kalinya mengerahkan drone murah yang mereka jiplak dari Iran.
"Task Force Scorpion Strike dari CENTCOM untuk pertama kalinya dalam sejarah menggunakan drone serangan satu arah dalam Operasi Militer Epic Fury. Drone murah ini, didesain serupa dengan drone Shahed, mengirim balas dendam buatan AS," kata CENTCOM.
Drone pembunuh harga murah buatan AS diberi nama LUCAS.
LUCAS pertama kali dipamerkan oleh produsennya, Spectreworks pada Juli tahun lalu. Spectreworks menunjukkan kemampuan LUCAS hanya dalam sebulan setelah Angkatan Udara AS mengumumkan minat untuk mencari replika Shahed-136 buatan Iran.
Harga setiap unit LUCAS diperkirakan hanya sekitar US$ 35.000 (Rp 590 juta), jauh di bawah harga rudal yang mencapai jutaan dolar AS. Banderol tersebut sesuai dengan perintah Menteri Perang Pete Hegseth yang ingin agar AS mengembangkan senjata otonom dengan cepat dan murah.
Pada Desember, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa mereka telah menggunakan satu skuadron LUCAS di Timur Tengah dan uji coba.
"Jangan samakan dengan skuadron tradisional, jumlahnya bisa 100 hingga 2.000," kata CENTCOM.
Meskipun pada awalnya dikembangkan sebagai alat latih, desain LUCAS yang modular dan terbuka memberinya kemampuan untuk membawa berbagai jenis amunisi. Militer AS menyatakan LUCAS telah diuji coba untuk berbagai jenis misi termasuk mata-mata dan serangan satu arah.
Pada 16 Desember, LUCAS diuji coba lewat peluncuran dari kapal tempur pesisir Santa Barbara di Teluk Persia.
On Dec. 16, a LUCAS was test-launched from the littoral combat ship Santa Barbara in the Persian Gulf.
Jumlah LUCAS yang digunakan dalam serangan ke Iran yang diberi nama Operasi Militer Epic Fury tidak diungkap.
Namun, penggunaannya membuat ahli militer AS mencemaskan persediaan persenjataan AS dalam operasi militer tersebut.
Mantan Menteri Pertahanan Mark Esper menyatakan bahwa AS tidak memiliki persiapan untuk kampanye militer jangka panjang.
"Kita tak punya basis industri pertahanan untuk itu, apalagi persediaan senjata kunci seperti rudal Patriot dan THAAD dan, kemudian senjata penyerang seperti JASSMs," kata Esper kepada CNBC International.
(dem/dem) Add
source on Google