China Lacak Gerak-gerik Militer AS di Timteng, Langsung Dirudal Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan armada tempur Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah diintip perusahaan intelijen geospasial asal China dan disebarkan ke media sosial, di tengah memanasnya konflik dengan Iran.
Perusahaan berbasis di Shanghai, MizarVision, mengunggah sejumlah citra satelit yang memperlihatkan aktivitas militer AS, mulai dari pergerakan kapal induk hingga posisi pesawat tempur di berbagai pangkalan udara di kawasan tersebut.
Beberapa fasilitas dan aset yang dipublikasikan perusahaan itu kemudian menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran. Serangan tersebut terjadi setelah AS dan Israel memulai operasi militer Operation Epic Fury pada 28 Februari.
Dalam unggahan di platform X, MizarVision memperlihatkan berbagai aset penting militer AS, termasuk pesawat tempur siluman Lockheed Martin F-22 di pangkalan udara Ovda, Israel, serta sejumlah pesawat Boeing E-3 AWACS dan Bombardier E-11 di pangkalan udara Prince Sultan, Arab Saudi.
"Citra satelit menunjukkan militer AS terus mengangkut pasokan ke pangkalan udara Ovda melalui pesawat Boeing C-17," kata MizarVision, dikutip dari Flight Global, Jumat (6/3/2026).
"Dalam periode yang sama, tujuh pesawat F-22 diparkir di landasan, dan empat F-22 terlihat berada di runway," imbuhnya.
Selain pangkalan udara, MizarVision juga melacak pergerakan kapal induk AS di kawasan tersebut. Salah satunya adalah USS Gerald R Ford, kapal induk terbesar milik Angkatan Laut AS, yang terpantau setelah meninggalkan pangkalan Souda Bay di Kreta.
Citra yang diunggah pada 26 Februari memperlihatkan pesawat tempur Boeing F/A-18E/F Super Hornet serta pesawat peringatan dini Northrop Grumman E-2D di dek kapal tersebut. Perusahaan itu juga mempublikasikan foto kapal induk USS Abraham Lincoln yang terlihat berada di Laut Arab di lepas pantai Oman.
Meski demikian, sumber citra satelit yang digunakan MizarVision masih menjadi perdebatan. Kelompok analis keamanan China, South China Sea Strategic Situation Probing Initiative (SCSPI), menyebut sebagian besar gambar kemungkinan berasal dari perusahaan satelit komersial Barat.
"Mereka bukan citra satelit China. Berdasarkan ephemeris satelit, tidak sulit menemukan bahwa sebagian besar gambar asli berasal dari beberapa perusahaan Amerika dan Eropa," tulis SCSPI melalui akun X pada 26 Februari.
Meski secara formal merupakan perusahaan swasta, MizarVision, tetap berada di bawah pengaruh pemerintahan Presiden Xi Jinping dan kebijakan Partai Komunis China yang berkuasa. Artinya, perusahaan tersebut berpotensi memperoleh dan merilis intelijen geospasial atas arahan otoritas di Beijing.
Menariknya, akun X milik MizarVision menunjukkan perusahaan itu baru bergabung dengan platform media sosial tersebut pada Januari dan membuat unggahan pertama pada 24 Februari, saat pengerahan militer AS ke Timur Tengah mulai berlangsung.
Berbeda dengan satelit mata-mata yang dioperasikan pemerintah, konstelasi satelit pengintaian komersial tidak menimbulkan risiko mengungkap detail sensitif terkait kemampuan teknis suatu sistem atau platform tertentu.
Ketersediaan citra komersial juga membuka opsi baru bagi pemerintah untuk memanfaatkan intelijen geospasial secara lebih fleksibel.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]