Bulan Menyusut, Ilmuwan Peringatkan Risiko Gempa Baru

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
26 February 2026 11:00
Yerai Garcia, 31, bermain dengan anjingnya Greta saat bulan purnama, yang dikenal sebagai "Bulan Sturgeon", terbit di Arguineguin, Pulau Gran Canaria, Spanyol, 9 Agustus 2025. REUTERS/Borja Suarez
Foto: REUTERS/Borja Suarez

Jakarta, CNBC Indonesia - Ilmuwan mengungkap bahwa Bulan masih aktif secara tektonik dan terus mengalami penyusutan. Kondisi ini berpotensi memicu aktivitas seismik baru atau gempa Bulan (moonquakes) di masa depan.

Temuan ini didasarkan pada identifikasi ribuan struktur geologi kecil yang disebut small mare ridges (SMR) di wilayah maria, yakni dataran gelap di permukaan Bulan.

Dengan mengidentifikasi bagaimana punggungan ini terbentuk, para peneliti juga telah mengungkap sumber potensial baru gempa bulan yang dapat memengaruhi lokasi pendaratan misi di masa mendatang.

Para peneliti menemukan bahwa struktur tersebut tergolong muda secara geologis, dengan usia antara 50 hingga 310 juta tahun, dan tersebar luas.

Seperti Bumi, Bulan juga mengalami aktivitas tektonik. Namun, mekanismenya berbeda. Jika kerak Bumi terbagi menjadi lempeng-lempeng yang saling bergerak dan memicu pembentukan pegunungan hingga gunung api, kerak Bulan tidak terbagi dalam sistem lempeng.

Meski demikian, tekanan internal tetap membentuk berbagai bentang alam khas. Salah satu struktur yang sebelumnya telah dikenal adalah lobate scarps, yakni punggungan yang terbentuk akibat kompresi kerak.

Pada 2010, peneliti dari Smithsonian Institution, Tom Watters, menemukan bahwa Bulan perlahan menyusut, dan proses inilah yang memicu pembentukan lobate scarps di dataran tinggi Bulan.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa lobate scarps bukan satu-satunya bukti penyusutan tersebut. SMR yang ditemukan di wilayah maria ternyata terbentuk oleh gaya kompresi yang sama.

"Sejak era Apollo, kita telah mengetahui banyaknya lobate scarps di seluruh dataran tinggi Bulan, tetapi ini adalah pertama kalinya para ilmuwan mendokumentasikan secara luas keberadaan fitur serupa di seluruh wilayah mare Bulan," kata Cole Nypaver dari Smithsonian Institution, dikutip dari SCINews, Kamis (26/2/2026).

Ia menambahkan, "Penelitian ini membantu kita memperoleh perspektif global yang lebih lengkap tentang tektonisme Bulan terbaru, yang akan mengarah pada pemahaman lebih besar tentang bagian dalam Bulan serta sejarah termal dan seismiknya, dan potensi terjadinya gempa Bulan di masa depan."

Dalam studi tersebut, para peneliti menyusun katalog pertama SMR di sisi dekat Bulan dan menemukan 1.114 segmen baru, sehingga totalnya menjadi 2.634 struktur yang kini teridentifikasi.

Rata-rata usia SMR sekitar 124 juta tahun, hampir setara dengan lobate scarps yang berusia sekitar 105 juta tahun.

Temuan ini memperkuat bukti bahwa Bulan masih aktif secara geologis dan terus mengalami kontraksi.

"Penemuan kami atas punggungan kecil yang muda di wilayah mare, serta temuan tentang penyebabnya, melengkapi gambaran global tentang Bulan yang dinamis dan terus menyusut," ujar Watters.

Hasil riset ini dipublikasikan dalam jurnal Planetary Science Journal dan dinilai penting untuk memahami risiko gempa Bulan di masa mendatang.

(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Gempa Dahsyat M 6,5 Bikin Gunung Bergeser 500 Meter, Ini Kata BRIN


Most Popular
Features