Saham TKIM-INKP Tiba-Tiba Terbang, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Dua saham kertas grup Sinarmas, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) terbang pada perdagangan kemarin Rabu (25/2/2026), ada sentimen apa?
Saham TKIM memimpin dengan penguatan mentok Auto Reject Atas (ARA) sebesar 20% kemarin ke posisi Rp9.150 per saham, sementara saham INKP menguat 16,50% menjadi Rp12.000 per saham.
Penguatan dua saham pada kemarin itu ditengarai revisi target analis untuk laba TKIM dan INKP yang bisa tumbuh signifikan pada tahun ini.
Merujuk riset Trimegah Sekuritas yang rilis pada Selasa kemarin (24/2/2026), menilai INKP mulai memasuki fase monetisasi setelah menuntaskan siklus belanja modal besar dalam empat tahun terakhir.
Dengan asumsi itu, analis menaikkan proyeksi laba bersih (NPAT) 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 65% dan 36%.
Revisi tersebut didorong oleh peningkatan utilisasi pabrik baru di Karawang serta peluang perbaikan struktur keuangan melalui strategi deleveraging. Pabrik Karawang telah menyelesaikan tahap uji coba pada akhir Desember 2025 dengan hasil awal yang positif.
Manajemen berencana membuka fasilitas tersebut kepada investor pada awal kuartal II-2026 untuk meningkatkan transparansi terkait kinerja operasional, efisiensi, serta potensi ekspansi margin.
Setelah bertemu manajemen, analis memperkirakan utilisasi pabrik Karawang akan mencapai sekitar 30% pada 2026, meningkat menjadi 75% pada 2027, dan mendekati 90% mulai 2028 untuk lini kertas cokelat maupun putih.
Dengan asumsi tersebut, proyeksi pendapatan 2026 dan 2027 direvisi naik masing-masing 13% dan 2%.
Meski fasilitas baru mengusung teknologi yang lebih modern dan efisien, Trimegah tetap menggunakan asumsi konservatif dengan estimasi margin EBITDA sekitar 23%, lebih rendah dibandingkan 26% pada fasilitas lama.
Rampungnya proyek Karawang menandai pergeseran fokus perseroan dari ekspansi agresif menuju penguatan arus kas.
Dengan sebagian besar investasi besar telah selesai, INKP kini memiliki tiga opsi alokasi modal, menurunkan utang, meningkatkan dividen, atau melanjutkan ekspansi tahap kedua (Phase 2) di Karawang.
Â
Analis juga menilai strategi deleveraging sebagai opsi paling optimal dengan risiko relatif rendah.
Saat ini, INKP memiliki utang berbunga sekitar US$4,9 miliar, terdiri dari 50% obligasi dan 47% pinjaman bank. Beban bunga tahunan mencapai sekitar US$310 juta, dengan komposisi 12% dalam dolar AS dan 88% dalam rupiah.
Sekitar US$ 1,9 miliar utang akan jatuh tempo dalam enam bulan ke depan. Jika perusahaan melunasi pinjaman bank dan melakukan refinancing obligasi dengan bunga 1% lebih rendah, beban bunga diperkirakan dapat turun sekitar 11%, yang berpotensi langsung meningkatkan laba bersih.
Untuk ekspansi tahap kedua yang berpotensi menambah kapasitas 1,5 juta ton per tahun dengan estimasi belanja modal US$ 750 juta, analis menilai peluang realisasinya dalam waktu dekat masih terbatas.
Manajemen diperkirakan akan memantau kinerja fase pertama selama dua hingga tiga tahun sebelum mengambil keputusan lanjutan.
Peningkatan dividen juga dinilai memungkinkan seiring normalisasi belanja modal, dengan potensi dividend payout ratio (DPR) hingga 40% atau setara dividend yield sekitar 4,8-7%.
Meski demikian, manajemen diperkirakan lebih memprioritaskan penguatan neraca sebelum meningkatkan distribusi kepada pemegang saham.
Sementara itu dari faktor eksternal, lonjakan saham TKIM dan INKP dipengaruhi optimismet terhadap sektor kertas yang menguat seiring pemulihan harga di pasar global.
Dari akhir tahun lalu, harga pulp dunia sudah naik akibat rantai pasok yang terganggu di Vietnam. Selain itu, wacana pencabutan izin Hutan Tanaman Industri (HTI) dalam negeri diperkirakan akan semakin menekan ketersediaan pasokan, yang akhirnya akan membuat harga melambung lagi.
Dengan total sekitar 300.000 hektare area hutan yang izinnya dicabut, efeknya dinilai signifikan terhadap keseimbangan pasar.
Kebijakan tersebut berpotensi mengurangi produksi kayu hingga 7 juta ton per tahun, setara dengan sekitar 2 juta ton pulp. Jumlah ini merepresentasikan sekitar 3-4% pangsa pasar pulp jenis bleached hardwood kraft (BHK) secara global.
Sementara itu, permintaan kertas untuk industri kemasan masih cukup solid, terutama pesanan dari Tiongkok.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw) Addsource on Google