THR Jangan Dihabisin:Ini 7 Aset Investasi Modal UMR Jakarta
Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang akhir bulan, momentum penerimaan gaji bulanan yang beriringan dengan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) mampu memberikan ruang likuiditas tambahan bagi para pekerja Tanah Air.
Waktu THR akan diberikan secara beragam menjelang Idul Fitri yang jatuh pada 20/21 Maret 2026. Bagi Pegawai Negei Sipil (PNS) diberikan kemungkinan akhir Februari 2026 sementara karyawan swasta biasanya 10 hari menjelang hari raya. Besaran THR juga bervariasi tetapi umumnya sekali gaji.
Mengarahkan kelebihan dana tersebut ke instrumen produktif menjadi langkah strategis untuk memperkuat struktur portofolio keuangan. Di tengah dinamika pasar keuangan yang masih dipengaruhi oleh pergerakan arus modal dan arah kebijakan suku bunga global, penempatan aset tetap memerlukan analisis yang terukur.
Sebagai catatan, Upah Minimum Regional (UMR) Jakarta di 2026 adalah sebesar Rp 5.729.876 berdasarkan dari Keputusan Gubernur Nomor 1142 Tahun 2025 tentang Upah Minimum Provinsi Tahun 2026.
Dengan perhitungan UMRÂ Jakarta, CNBCÂ mencoba melihat beberapa peluang potensi penggunaan THRÂ dengan hitungan UMRÂ Jakarta.
Berikut adalah tinjauan valuasi dan profil risiko dari tujuh kelas aset investasi yang dapat dipertimbangkan untuk mengoptimalkan alokasi dana gaji dan THR pada periode ini beserta harganya berdasarkan harga pasar Selasa (24/2/2026):
1. Emas Logam Mulia (Antam)
Harga emas batangan produksi Antam saat ini ditransaksikan pada level Rp 3.068.000 per gram sehingga mampu membeli 1,86 gram emas berbentuk emas digital dan 1 gram untuk emas kepingan. Secara historis, logam mulia berfungsi sebagai instrumen lindung nilai yang tangguh di tengah ketidakpastian ekonomi makro dan lonjakan inflasi.
Keuntungan utama aset ini adalah wujud fisiknya yang bernilai intrinsik dan kemudahan likuiditas. Risiko yang perlu diperhitungkan adalah selisih yang cukup lebar antara harga beli dan harga jual kembali, serta tidak adanya pembagian arus kas pasif seperti dividen.
2. Bitcoin (BTC)
Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini berada di kisaran harga Rp 1,06 miliar per koinnya sehingga mampu membeli 0,0054 BTC. Instrumen ini menawarkan potensi apresiasi modal yang sangat masif ketika sentimen adopsi aset digital global sedang berekspansi.
Selain itu, transaksinya tidak bergantung pada otoritas moneter sentral. Di sisi lain, instrumen ini menuntut toleransi fluktuasi yang ekstrim karena harganya dapat bergejolak tajam dalam hitungan jam.
3. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
Ekuitas perbankan berkapitalisasi besar ini diperdagangkan pada level Rp 5.375 per lembar saham sehingga bisa membeli 10 lot saham BMRI. Perusahaan ini secara konsisten mencatatkan pertumbuhan kredit yang solid dan efisiensi biaya dana yang terjaga.
Keunggulan utamanya terletak pada pembagian dividen yang rutin serta proyeksi stabilitas pertumbuhan laba jangka panjang. Risiko yang melekat pada aset ini mencakup korelasi yang cukup tinggi terhadap perubahan kebijakan suku bunga acuan dari bank sentral serta dinamika makroekonomi domestik yang berpotensi mempengaruhi arah kredit.
4. Saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR)
Harga saham emiten pertambangan ini terpantau berada di kisaran level Rp 2.020 per lembar saham sehingga bisa memiliki 28 lot ADMR. Penempatan modal pada ekuitas ini didukung oleh momentum kenaikan harga komoditas global, khususnya pada batu bara metalurgi dan aluminium yang mencatatkan penguatan signifikan baru-baru ini.
Keuntungan strategis dari kepemilikan saham ini adalah eksposur langsung terhadap rantai pasok industri baja dan material yang relevan dengan tren permintaan pasar global.
Meski demikian, investor tetap perlu mengantisipasi risiko fluktuasi harga komoditas acuan di pasar internasional serta potensi perlambatan aktivitas manufaktur global yang dapat menekan volume permintaan.
5. Dolar Singapura (SGD)
Nilai tukar mata uang negara tetangga ini terpantau berada di level Rp 13.284 per dolar Singapura sehingga mampu memiliki SG$ 431,34. Penempatan dana pada instrumen valuta asing ini diproyeksikan memiliki landasan struktural yang kuat di kawasan regional.
Keunggulan utamanya adalah fungsi preservasi kekayaan yang kokoh dan stabilitas nilai tukar karena didukung oleh fundamental ekonomi dan cadangan devisa Singapura yang masif.
Risiko strategis dari instrumen ini adalah ketiadaan perolehan bunga majemuk jika disimpan dalam bentuk fisik, serta beban selisih kurs yang ditetapkan oleh lembaga penukaran.
6. Surat Berharga Negara Ritel (SBN)
Instrumen surat utang yang diterbitkan langsung oleh pemerintah ini dapat diakses dengan batas partisipasi minimal sebesar Rp 1.000.000 dan kelipatannya sehingga mampu memiliki SBN dengan niali Rp 5.000.000. Aset ini menawarkan kepastian pengembalian melalui kupon yang dibagikan secara berkala.
Keuntungan absolut dari penempatan ini adalah nihilnya risiko gagal bayar, mengingat pembayaran pokok dan kupon dijamin sepenuhnya oleh undang-undang.
Tantangan dari aset ini sebatas pada keterbatasan likuiditas untuk seri tertentu yang tidak bisa dicairkan di pasar sekunder, serta potensi tergerusnya persentase imbal hasil riil akibat lonjakan inflasi domestik.
7. Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT)
Wadah investasi kolektif ini mengalokasikan mayoritas dana kelolaannya ke dalam instrumen surat utang atau obligasi yang memiliki tenor di atas satu tahun sehingga mampu memiliki RDPT yang sesuai dengan harga NAV yang berlaku oleh masing-masing produk RDPT. RDPT menawarkan proyeksi imbal hasil yang lebih optimal secara historis bila disandingkan dengan reksa dana pasar uang.
Keuntungannya meliputi diversifikasi portofolio obligasi yang dikelola oleh manajer investasi profesional dengan tingkat volatilitas yang tetap terkendali.
Risiko dari instrumen ini bertumpu pada sensitivitas terhadap tren kenaikan suku bunga yang dapat menekan harga dasar obligasi dalam portofolio, serta risiko gagal bayar parsial apabila terdapat obligasi korporasi yang mengalami gagal bayar.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google