Permukaan Matahari Meledak, Jejaknya Sampai Terlihat dari Bumi

Intan Rakhmayanti, CNBC Indonesia
Kamis, 19/02/2026 10:05 WIB
Foto: dok NASA

Jakarta, CNBC Indonesia - Ilmuwan mencatat lonjakan aktivitas ekstrem di permukaan Matahari setelah satu wilayah bintik Matahari menghasilkan enam letupan solar flare besar hanya dalam waktu empat hari.

Wilayah bintik Matahari yang diberi kode AR 14098 mulai terlihat dari Bumi saat berputar melewati tepi timur Matahari pada akhir Januari.

Dalam 96 jam sejak sepenuhnya tampak, wilayah tersebut memicu enam letupan kuat yang bahkan membuat sensor sinar-X pada wahana antariksa mengalami saturasi.


Letusan terkuat terjadi pada 1 Februari pukul 23:59 UTC dengan magnitudo X8,1 pada skala GOES.

Sebelumnya, wilayah yang sama telah menghasilkan suar X1,0 sekitar 11 jam lebih awal. Setelah itu, suar X2,8 dan X1,6 terjadi pada 2 Februari, diikuti suar X1,5 pada 3 Februari dan X4,2 pada 4 Februari.

Citra dari NASA melalui Solar Dynamics Observatory menunjukkan setiap peristiwa dalam berbagai panjang gelombang ultraviolet ekstrem. Visualisasi komposit keenam suar tersebut juga dirilis oleh NASA Scientific Visualization Studio pada 5 Februari.

Rangkaian ini menjadi yang paling terkonsentrasi sejak Siklus Matahari 25 mencapai maksimum resminya pada 2024, demikian dikutip dari Daily Galaxy, Kamis (19/2/2026).

Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa periode puncak aktivitas Matahari secara historis dapat berlangsung dua hingga tiga tahun setelah tanggal maksimum formal.

Selain suar, para peramal cuaca antariksa juga memantau lubang korona, area gelap pada citra ultraviolet ekstrem yang menjadi sumber angin Matahari cepat.

Ketika aliran cepat ini berinteraksi dengan angin Matahari yang lebih lambat, terbentuk wilayah kompresi yang dapat meningkatkan kepadatan partikel dan kekuatan medan magnet sebelum mencapai Bumi.

Lubang korona di dekat ekuator Matahari berpotensi memicu badai geomagnetik level G1 hingga G2. Identifikasi otomatis fitur ini masih menghadapi tantangan teknis, termasuk munculnya artefak yang menyerupai lubang korona dalam citra.

Data dari misi Ulysses sebelumnya mengonfirmasi bahwa angin Matahari terbagi menjadi dua rezim, lambat di atas helmet streamer dan cepat di atas lubang korona. Kecepatan angin cepat dapat mencapai 800 kilometer per detik.

Meski suar X8,1 menunjukkan potensi letusan besar dari AR 14098, orientasi magnetik dari lontaran massa korona yang mungkin menyertainya belum dapat ditentukan hanya berdasarkan citra ultraviolet ekstrem.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Solusi Kelistrikan Yang Penting Bagi Proyek Data Center Era AI