Tesla Berubah Total, Bukan Lagi Perusahaan Mobil Listrik

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Jumat, 30/01/2026 19:25 WIB
Foto: Tesla. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tesla mencatat penurunan pendapatan tahunan untuk pertama kalinya sepanjang sejarah perusahaan. Produsen kendaraan listrik milik Elon Musk itu melaporkan total pendapatan turun 3% pada 2025, sementara laba anjlok hingga 61% pada kuartal terakhir tahun tersebut.

Penurunan kinerja ini terjadi seiring perubahan strategi bisnis Tesla yang makin menjauh dari kendaraan listrik (EV) murni dan beralih ke perusahaan kecerdasan buatan (AI), robotika, serta pengembangan taksi tanpa sopir (robotaxi).

Sebagai bagian dari langkah tersebut, Tesla mengumumkan akan menghentikan produksi Model S dan Model X. Pabrik di California yang sebelumnya memproduksi dua model premium itu akan dialihfungsikan untuk memproduksi robot humanoid Optimus, yang digadang-gadang menjadi lini bisnis masa depan perusahaan.

Di saat bersamaan, posisi Tesla di pasar global kendaraan listrik juga mendapat tekanan. Pada Januari lalu, produsen asal China, BYD, resmi menyalip Tesla sebagai pembuat EV terbesar di dunia berdasarkan volume penjualan.

Mengutip BBC, Tesla juga mengungkapkan investasi sebesar US$2 miliar ke perusahaan AI milik Elon Musk, xAI. Musk menyebut keputusan tersebut diambil atas permintaan para investor, meskipun pemungutan suara pemegang saham menunjukkan lebih banyak suara abstain dan penolakan dibandingkan persetujuan.

Di sisi lain, Musk sebelumnya telah mendapatkan persetujuan paket kompensasi jumbo yang nilainya berpotensi mendekati US$1 triliun. Namun, untuk merealisasikan paket tersebut, ia harus menaikkan valuasi pasar Tesla secara signifikan dalam satu dekade ke depan.

Ke depan, Tesla berencana meningkatkan belanja modal hingga sekitar US$20 miliar. Musk menyebut investasi besar ini sebagai langkah untuk membangun masa depan yang gemilang bagi perusahaan.

Meski menghadapi tantangan, saham Tesla masih mencatat kenaikan sekitar 2% dalam perdagangan setelah penutupan bursa.

Namun, arah baru Tesla tidak lepas dari kontroversi. Keterlibatan Musk dalam politik, termasuk perannya dalam pemerintahan Presiden AS Donald Trump, memicu reaksi negatif dari sebagian konsumen. Sejumlah aksi protes bahkan terjadi di diler Tesla di berbagai negara.

Analis menilai, penghentian Model S dan Model X merupakan langkah logis mengingat kedua model tersebut sudah lama berkontribusi kecil terhadap volume penjualan.

"Dari sisi portofolio dan fokus bisnis, masuk akal jika Tesla menghentikan model tersebut dan berkonsentrasi pada produk bervolume besar seperti Model 3 dan Model Y, serta ekspansi bisnis lainnya," ujar Jessica Caldwell, Head of Insights Edmunds.



(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Musk Prediksi Robotaxi Akan Tersebar Luas di AS Pada Akhir 2026