Markas Penipuan Online Digerebek, 11 Mafia Dihukum Mati
Jakarta, CNBC Indonesia - China mengeksekusi 11 anggota keluarga Ming, klan mafia kawakan yang selama bertahun-tahun mengendalikan pusat-pusat penipuan online di Myanmar.
Keluarga Ming divonis mati oleh pengadilan di Provinsi Zhejiang pada September 2025 atas berbagai kejahatan berat, mulai dari pembunuhan, penahanan ilegal, penipuan, hingga pengoperasian kasino ilegal.
Mereka dikenal sebagai salah satu penguasa utama kota perbatasan Laukkaing, yang diubah dari wilayah miskin menjadi pusat kasino dan industri gelap.
Kejatuhan dinasti penipuan keluarga Ming terjadi pada 2023, saat konflik bersenjata di Myanmar meningkat. Milisi etnis yang menguasai Laukkaing menyerahkan para bos penipuan tersebut kepada otoritas China, membuka jalan bagi proses hukum yang berujung pada eksekusi.
Mahkamah Agung China menyebut operasi penipuan dan perjudian keluarga Ming menghasilkan lebih dari 10 miliar yuan sepanjang 2015-2023. Aktivitas tersebut menyebabkan sedikitnya 14 warga China tewas dan banyak lainnya mengalami luka-luka.
Selain 11 orang yang dieksekusi, lebih dari 20 anggota keluarga lainnya dijatuhi hukuman penjara, dari lima tahun hingga seumur hidup, demikian dikutip dari BBC, Jumat (30/1/2026).
Pemimpin klan, Ming Xuechang, tidak sempat diadili. Ia dilaporkan bunuh diri pada 2023 saat berusaha menghindari penangkapan. Namanya dikenal luas sebagai pengelola Crouching Tiger Villa, salah satu pusat penipuan paling kejam di Laukkaing.
Meski eksekusi ini dimaksudkan sebagai efek jera, para analis menilai bisnis penipuan belum sepenuhnya berhenti. Aktivitas serupa kini bergeser ke perbatasan Myanmar-Thailand serta ke Kamboja dan Laos, wilayah yang pengaruh China relatif lebih terbatas.
Menurut PBB, ratusan ribu orang telah menjadi korban perdagangan manusia untuk menjalankan penipuan daring di Asia Tenggara. Ironisnya, sebagian besar pelaku dan korban berasal dari China sendiri.
(fab/fab)