Respons China Setelah Startup Bernilai Rp 33 Triliun Direbut Amerika

Redaksi, CNBC Indonesia
Sabtu, 17/01/2026 13:00 WIB
Foto: REUTERS/DADO RUVIC

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa teknologi Amerika Serikat (AS), Meta Platforms (Facebook, WhatsApp, Instagram), melakukan akuisisi bernilai US$2 miliar atau setara Rp33 triliun terhadap startup kecerdasan buatan (AI) asal China, Manus.

Manus merupakan startup 'kebanggaan' China di sektor AI selain DeepSeek. Startup ini menjadi sorotan setelah mengembangkan agen AI untuk berbagai macam kegunaan atau tugas (general-purpose) pada awal tahun ini.

Fungsinya beragam, bisa menyelesaikan tugas-tugas kompleks seperti penelitian pasar, pengkodean, hingga analisis data.


Sebagai konteks, Manus awalnya mengepakkan sayap sebagai produk dari startup China, Butterfly Effect atau Monica.Im, sebelum berkembang menjadi entitas terpisah.

Manus langsung menjadi pemain AI yang ramai disorot tahun ini dengan klaim bahwa chatbot-nya menawarkan kinerja superior dibandingkan agen AI Deep Research buatan OpenAI.

Dilaporkan bahwa Manus melakukan PHK untuk hampir semua karyawan di Beijing pada Juli 2025, sebelum memindahkan markas utamanya ke Singapura pada Juni 2025. Relokasi ke Singapura bertujuan untuk memperkuat ekspansi global perusahaan.

Ambisi Besar Mark Zuckerberg, China Bereaksi

Dalam pernyataan resminya, Meta mengatakan akuisisi ini bermaksud untuk mempercepat inovasi AI untuk bisnis dan mengintegrasikan otomatisasi canggih ke produk-produk konsumen dan enterprise, termasuk asisten Meta AI, dikutip dari CNBC International.

Menanggapi hal ini, China mengatakan akan menyelidiki akuisisi jumbo yang dilakukan Meta terhadap Manus. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai apakah akuisisi tersebut mematuhi undang-undang pengendalian ekspor dan regulasi terkait investasi luar negeri.

Kementerian Perdagangan China menyatakan akan melakukan penilaian dan penyelidikan terkait kepatuhan akuisisi ini terhadap undang-undang dan peraturan mengenai pengendalian ekspor, impor dan ekspor teknologi, serta investasi luar negeri.

"Pemerintah China secara konsisten mendukung perusahaan dalam menjalankan operasi transnasional yang saling menguntungkan dan kerja sama teknologi internasional sesuai hukum dan peraturan," kata juru bicara Kementerian Perdagangan, He Yadong, dikutip dari CNBC Internasional.

Manus Kerap disebut sebagai 'the next DeepSeek'. Kemampuannya dinilai relevan untuk kehidupan masyarakat, yakni menyediakan agen AI untuk riset pasar, coding, dan analisis data.

Manus juga telah mencatat pendapatan berulang tahunan (ARR) lebih dari US$100 juta, hanya delapan bulan setelah peluncuran produk pertamanya.

Pengamat menilai penyelidikan China menunjukkan bahwa negara ini menilai agen AI canggih dan teknologi terkait sebagai aset strategis.

"Hasil yang paling mungkin adalah proses persetujuan yang lebih panjang dan kemungkinan kondisi penggunaan teknologi Manus yang dikembangkan di China, bukan pemblokiran total. Namun, ancaman tindakan lebih ketat memberi Beijing kekuatan negosiasi dalam akuisisi besar yang dipimpin AS ini," tambahnya." ujar Nick Patience, AI Lead The Futurum Group.

Akuisisi Manus dilakukan saat Meta menghabiskan miliaran dolar untuk mengembangkan kemampuan AI, menghadapi kemajuan dari pesaing seperti OpenAI dan Google.

Pada Juni, Meta menginvestasikan US$14,3 miliar untuk mengambil 49% saham startup AI, Scale AI, yang membawa pendiri sekaligus CEO Alexandr Wang ke tim kepemimpinan perusahaan. Meta juga mengumumkan akuisisi startup AI wearable, Limitless, pada Desember.

CEO Meta, Mark Zuckerberg, disebut menurunkan prioritas unit Fundamental Artificial Intelligence Research (FAIR) perusahaan, demi tim GenAI yang lebih fokus pada produk, untuk mempercepat kemajuan Meta dalam AI dan meningkatkan keluarga model AI Llama.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Nyerah, China Siap Borong Chip Amerika